Lihat ke Halaman Asli

Latifah Maurinta

TERVERIFIKASI

Penulis Novel

Jangan Jadikan Menulis Skripsi Menjadi Beban

Diperbarui: 11 Maret 2019   06:19

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Image by skeeze on Pixabay

Young Lady cantik tergerak membuat tulisan cantik ini saat membaca artikel milik sahabat Kompasianer Diana Lieur. Tulisannya tentang orang yang depresi karena skripsi. Percayalah, Young Lady sama sekali tak bermaksud menghakimi/mengomentari negatif. Di sini, Young Lady hanya bercerita dan menawarkan solusi.

Skripsi membuat depresi. Well, itu kembali ke pribadi masing-masing. Apakah skripsi dianggap sebagai beban? Atau skripsi bisa dikerjakan sambil have fun? Young Lady pilih opsi kedua.

Kalian tahu nggak? Young Lady mengerjakan skripsi tak lebih dari dua minggu. Total 90 halaman, lengkap mulai dari kata pengantar hingga riwayat hidup. Judul skripsi dan isunya cukup seksi: Mata Sipit, Mata Biru, dan Pandangan Tentang Diskriminasi Nonpribumi di Kompasiana.com: Kajian Appraisal System. 

Wow, mana ada judul skripsi kayak gitu sebelumnya? Pakai bawa-bawa mata segala. Sambil skripsian, Young Lady masih bisa ngompasiana tiap hari...as usual. Tak ada yang berubah. Masih bisa melakukan banyak hal lain di luar skripsi.

Anyway, Young Lady menyelipkan nama beberapa Kompasianer dalam lembar ucapan terima kasih. "Calvin Wan" malaikat tampan bermata sipitku tentu saja tak luput dari daftar itu. 

Lalu Pak Tian, Opa Effendi, Dokter cantik, dokter ganteng, Prof. Apolo, Bunda Dinda, bu Hennie, bu Muthi, Pak Edy Supriatna, Ka Syifa, Kak Adica, dan beberapa nama lainnya. Yang jelas, mereka orang-orang terpilih yang tulus.

Ok, back to focus. Biar skripsi nggak jadi beban, Young Lady punya solusinya.

1. Pilih objek penelitian yang kalian suka

Nah, ini langkah paling mendasar. Mengerjakan sesuatu yang kita sukai takkan menjadi beban. Sebenci-bencinya kita sama jurusan yang diambil, coba kaitkan bidang kajian dengan objek penelitian yang disukai. Seperti Young Lady yang cinta mati sama Kompasiana, menjadikan Kompasiana sebagai objek penelitian. Tapi pendekatannya literatur. Biar penelitiannya gampang, dan nggak perlu menghadapi back officenya Kompasiana.

Jika kalian memilih objek penelitian yang disukai, kalian bisa mengerjakan skripsi sambil bersenang-senang. Anggap saja seperti selingan. Sambil mengerjakan skripsi, sambil melakukan kegiatan menyenangkan. Dengan begitu, skripsi bukanlah beban buat kalian.

2. Siapkan data jauh-jauh hari

Kendala yang sering ditemui para pejuang skripsi adalah data. Kesulitan cari datalah, kesulitan menyebar instrumen penelitianlah, dijegal sana-sinilah buat dapat data, bla bla bla. Demi mengurangi risiko terhalang saat pengerjaan skripsi, carilah data sejak jauh-jauh hari. Fyi, Young Lady cantik mencari data untuk skripsi setahun sebelumnya. Data itu dibaca, diolah, dan disimpan. Saat pengerjaan skripsi, tinggal analisis saja. Cakep, kan?

3. Konsistensi pada objek penelitian

Usahakan jangan ganti-ganti kajian dan objek penelitian. Berganti data dan objek penelitian akan membuat kalian terkesan plin-plan di mata dosen. Konsistenlah pada objek penelitian dan kajian yang sama, atau minimal sejenis. Jika kalian konsisten dan mampu mempertahankan objek penelitian, dosen akan yakin dan tak mudah membantai kalian.

4. Rajin menulis

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline