Lihat ke Halaman Asli

Trie Yas

TERVERIFIKASI

Sehari-hari bekerja sebagai Graphic design, editing foto, editing video (motion graphic). Namun tetap menulis buat menyeimbangkan hidup.

Ketahui Perjalanan Hidup Wiji Thukul Sebelum Menonton Filmnya

Diperbarui: 26 Januari 2017   16:51

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Poster film Istirahatlah Kata-kata. Film yang bercerita tentang penyair Wiji Thukul, dibintangi oleh Gunawan Maryanto. (sumber foto: instagram gunawan mariyanto/ @gunawanmaryanto )

“Hanya ada satu kata: Lawan!”

Itulah selarik puisi terkenal karya Wiji Thukul. Ketika mengetahui bulan ini ada film 'Istirahatlah Kata-kata', saya teringat ketika peristiwa 1998. Saat itu saya masih duduk di bangku SD dan tak mengerti dengan kondisi politik. Tentu senang mendengar ada film yang mengangkat tentang Wiji Thukul, saya langsung melahap beberapa bacaan yang ada kaitannya dengan Wiji Thukul, siapa dan bagaimana Wiji Thukul bisa dinyatakan hilang.

Penyair pelo/cadel dengan kepolosan menentang kesewang-wenangan penguasa itu telah membuat marah dan harus mengembara dari satu kota ke kota lain, menghindari jenderal-jenderal di Jakarta yang marah-marah menuding isi puisinya menghasut para aktivis untuk melawan Orde Baru.

Ketika SD saya masih ingat membaca puisi Taufiq Ismail di buku paket Bahasa Indonesia.

Tiga anak kecil / Dalam langkah / Datang ke Salemba / Sore itu / Ini dari kami bertiga / Pita hitam pada karangan bunga / sebab kami ikut berduka / Bagi kakak yang ditembak mati / siang tadi

Puisi ucapan duka kepada Mahasiswa di Jakarta yang mati terkena peluru tentara ketika ikut berdemonstrasi sempat dicekal pada akhir 1966. Sepertinya salah satu ciri sastra Indonesia, tak lepas dari kritik, kemiskinan, kekerasan politik dan semua itu tak hanya sekali muncul dalam puisi. Tahun 1961 ada Agam Wispi, penyair Lekra dengan karya ‘Matinya seorang Petani’ dilarang beredar oleh penguasa militer di awal 'Demokrasi Terpimpin'.

dia jatuh / rubuh / satu peluru dalam kepala / ingatannya melayang / disakap siksa / tapi siksa cuma dapat bangkitnya

Puisi tentang rekaman taumatik, ternyata memilki mata pisau yang mampu menancap sehingga diperlukan selongsong senjata yang dikiranya mampu membunuh semangat kata-kata yang dianggap mengancam dan mendorong masyarakat bawah melakukan aksi protes.

Wiji thukul adalah cerita penting dalam sejarah Orba yang tak patut diabaikan. Wiji Widodo, lahir dari keluarga penarik becak, tak menamatkan sekolah menengah untuk bekerja agar adik-adiknya bisa melanjutkan sekolah. Belajar menulis puisi setelah seorang teman memperkenalkan kepada Cempe Lawu Warta, anggota Bengkel Teater yang diasuh penyair W.S. Rendra. Nama Thukul ditambalkan oleh gurunya itu, Thukul memiliki arti tumbuh, Wiji Thukul artinya biji yang tumbuh.

Awal-awal penulisan puisi Thukul sarat muatan religius, berisi tentang perenungan. Hinga akhirnya ketika bertemu dengan Moelyono, perupa asal tulung agung, yang mengalami pembubaran pameran seni intalasi patung Marsinah. Seorang aktivis dan buruh pabrik yang diculik dan terbunuh setelah melakukan demo buruk pada tahun 1993.

Peristiwa tersebut mendorong Thukul bersama Samsar Siahaan membentuk jaringan kerja seniman. Akhirnya mereka sepakat membentuk Jaringan Kesenian Rakyat (Jaker). Beranggotakan tidak hanya seniman, ada 4 nama anggota inti Persatuan Rakyat Demokratik, yang kemudian hari menjadi Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline