Lihat ke Halaman Asli

Kusworo

Penjelajah Bumi Allah Azza wa Jalla Yang Maha Luas Dan Indah

"Masjid Koutoubia" Terbesar dan Landmark Kota Marrakech, Marocco

Diperbarui: 2 Oktober 2021   06:26

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Menara Masjid Koutoubia Landmark Kota Marrakech (Dok,Wikipedia dan Pribadi)

Point of Journey to Marocco – Spain : 4

“Masjid Koutoubia dianggap sebagai contoh klasik dan penting gaya arsitektur Almohad dan arsitektur masjid-masjid di Marocco pada umumnya.  Merupakan masjid terbesar dan terindah di Marrakech, Marroco.  Menaranya yang setinggi 77 meter merupakan bangunan tertinggi di sekelilingnya.  Dibangun dengan design arsitektur yang cantik dan indah.  Menampilkan bentuknya yang asli nan alami.  Kini dianggap sebagai Landmark dan symbol penting kota tua Marrakech”. 

Panggilan azan sholat dzuhur telah empat puluh lima menit berlalu saat kami berada di depan Masjid Koutobia.  Setelah kami menyelesaikan santap siang di restaurant  bergaya rumah sultan khas Marocco di alun-alun, Djamaa el-Fna.  Kami memutuskan menyegerakan santap siang lebih dahulu dan melakukukan sholat kemudian, apabila makanan sudah terhidang di atas meja. Itu “sunnah” yang diajarkan Rasulullah Saw. Apalagi kondisi kami sebagai musafir yang mendapat “Rukhsah” kemudahan dan keringanan dalam beribadah.

Dari Alun-alun kota, Djamaa el-Fna; Persis dari jalan utamanya; tepatnya di Avenue Muhammad V, di seberang Place de Foucauld. Menara Masjid Koutoubia sudah terlihat jelas.  Hanya berjarak kurang lebih dua ratus langkah orang dewasa. Namun ada jalan raya yang harus diseberanginya.  Tak usah khawatir menyebrang. Pengendara di Marrakech tidak ugal-ugalan, bahkan  kadang ada polisi lalulintas yang membantu kita menyeberang dengan aman.

Kupandangi Menara Masjid Koutoubia yang merupakan bangunan yang paling menarik perhatian dari keseluruhan bangunan Masjid tersebut. Menara setinggi 77 meter ini sudah terlihat jelas dari jarak 29 km di sekeliling kota tua Marrakech, apalagi dari Djamaa El-Fna yang jaraknya hanya selemparan batu saja. 

Ketinggiannya tetap terjaga tanpa tanding dari bangunan-bangunan lain di sekitarnya, karena ada Peraturan Tata Kota yang melarang membuat bangunan tinggi melebihi tinggi pohon palm di sekitar Masjid Koutoubia. Yang sekarang seakan menjadikannya sebagai Icon Kota Marrakech.

 

Para ahli yang merawatnya membiarkan batuan asli bahan bangunan menara terlihat seperti adanya dengan membuang plaster merah muda Marrakshi yang dulu menutupinya.  Biar Menara tampil apa adanya, cantik alamiah, secantik kembang yang sedang bersemi. Harumnya menyebar menawan hati.

Seperti bunga kembang desa sebuah padepokan pencak silat yang lagi mekar-mekarnya. Yang kecantikan alaminya membuat  panas dan membakar semua padepokan silat sejagat  telatah Kerajaan Singasari.  Dan  membuat geger dunia persilatan;  sehingga jawara-jawara padepokan bertarung dengan jiwa raga untuk memperebutkannya. 

Dengan terpaksa “Ken Padmi” yang juga jago silat; putri tunggal Ki Kenanga atau lebih dikenal sebagai Ki Selabajra; pengasuh padepokan Kenanga; harus menyelenggakan sayembara untuk memperebutkan dirinya. Yang akhir ceritanya,  “Mahisa Bungalan” kesatria muda calon Panglima Perang Kerajaan Singasari yang senang mengembara;  putra tertua Mahendra, adik seperguruan Witantra dan Mahisa Agni  yang juga paman sekaligus guru Kanuragan Mahisa Bungalan; berhasil meluluhkan hati Ken Padmi kembang desa yang sedang mekar-mekarnya.

Loh…ini bukanya synopsis buku karya S.H. Minthardja yang berjudul “Panasnya Bunga Mekar”,  Boss…?  kita kan lagi bahas kecantikan menara bukan kecantikan Ken Padmi putri tunggal Ki Selabajra?

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline