Lihat ke Halaman Asli

Jojo Simatupang

Sarjana Pendidikan | Guru | Penulis

Guru Melawan atau Merangkul FYP?

Diperbarui: 4 Maret 2024   07:45

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

kesehatan.kontan.co.id

Media sosial menjadi salah satu media yang bisa menjadi sarana komunikasi antar manusia dengan manusia lainnya. Selain itu, media sosial juga saat ini menjadi media hiburan bagi banyak orang. Perkembangan teknologi di masa kini membuat hidup manusia semakin praktis. Tidak perlu repot-repot melakukan banyak hal atau langkah-langkah untuk berkomunikasi dan menikmati hiburan. Semua tersedia dalam sebuah genggaman.

Lebih hebatnya lagi, jika dahulu orang-orang terbiasa berkomunikasi dengan telepon genggam dari satu manusia dengan satu manusia lainnya, saat ini bisa satu dengan banyak orang atau banyak orang dengan banyak orang. Kemudian komunikasi berkembang menjadi forum-forum rapat dan proses belajar mengajar melalui media komunikasi.

Namun kali ini bahasan mengenai media sosial sangat luas. Variasi yang sangat banyak mengemas manusia dengan caranya menyampaikan ekspresinya. Dari mulai hanya komentar di media sosial, berbagi cerita dengan tulisan dan gambar atau video bahkan suara, sampai saling berinteraksi secara anonim.

Penikmat media sosial ternyata bukan hanya orang-orang kalangan dewasa. Remaja hingga anak-anak pun turut menikmati keleluasaan media sosial. Memang pada awalnya media sosial membatasi usia untuk penggunaannya. Namun banyak juga yang menurunkan standar usia pengguna media sosial, ada juga yang memalsukan identitas usianya. Hal ini karena sangat mudah melakukannya, cukup dengan mengisi kelahiran dengan usia di atas 17 atau 18 tahun, maka media sosial dengan terbuka meloloskan verifikasi usia tersebut.

Saat ini, media sosial bukan sekadar menyuguhkan konten secara bebas. Namun ternyata media sosial juga mengarahkan penggunanya dengan suguhan-suguhan konten yang menjadi tren di masyarakat. Hal ini disebut dengan FYP (for your page). Rupanya FYP ini menjadi senjata media sosial untuk tampak terlihat menarik dan dibutuhkan. Banyak orang yang bingung menggunakan telepon genggamnya di kala waktu senggang. Hal inilah yang dimanfaatkan penyedia media sosial untuk menyajikan hal-hal menarik. Bicara hal yang menarik, hal ini memanfaatkan teknologi yang saat ini disebut dengan algoritma.

Dalam matematika dan ilmu komputer, algoritme diambil dari bahasa Arab merujuk kepada sang penemu dari algoritme itu sendiri yaitu Muhammad Ibn Musa al-Khwarizmi/ (lihat bagian sejarah) adalah rangkaian terbatas dari instruksi-instruksi yang rumit, yang biasanya digunakan untuk menyelesaikan atau menjalankan suatu kelompok masalah komputasi tertentu. Algoritma digunakan sebagai spesifikasi untuk melakukan perhitungan dan pemrosesan data. Algoritma yang lebih mutakhir dapat melakukan deduksi otomatis (disebut sebagai penalaran otomatis) dan menggunakan tes matematis dan logis untuk mengarahkan eksekusi kode melalui berbagai rute (disebut sebagai pengambilan keputusan otomatis). Dikutip dari Wikipedia bahasa Indonesia.

Algoritma di tengah masyarakat ternyata tidak memandang usia. Tren paling tinggi peminat akan ditampilkan kepada setiap pengguna media sosial. Meskipun setiap pengguna mengisikan minatnya masing-masing, baik itu hiburan, olahraga, otomotif, game, film, musik, dan lain-lain, ternyata FYP tetap menyuguhkan tren umum yang ada di masyarakat. Sehingga tidak menutup kemungkinan, konten politik yang akhir-akhir ini sangat menjadi buah bibir masyarakat, akan muncul pada pengguna yang menyukai olahraga dan musik.

Media sosial mengontrol tren dan isu dunia. Di Indonesia yang rakyatnya sangat banyak, ternyata fyp media sosial dikonsumsi juga pada usia anak-anak. Anak-anak di sekolah mengetahui fakta-fakta yang ada di masyarakat, bahkan mungkin lebih mendalam dari orang dewasa sendiri. Karena anak-anak memiliki rasa ingin tahu dan waktu luang yang lebih banyak dari orang dewasa kebanyakan.

Sebagai pendidik, hal ini menjadi tantangan tersendiri. Seperti contoh di masa-masa covid-19 awal, yaitu tahun 2020. Anak-anak dari SD sudah mengetahui tren tentang LGBT. Hal ini disebabkan tren di media sosial akan seorang tokoh LGBT Indonesia, yaitu Ragil. Ragil seorang laki-laki yang telah resmi menikah dan hidup bersama dengan seorang laki-laki berkebangsaan Jerman.

Kemudian tren akhir-akhir ini tentang politik di Indonesia. Pemilihan umum di Indonesia memang hanya dilakukan oleh pemilih yang terdaftar sebagai pemilih dan sudah berusia minimal 17 tahun. Namun ternyata euforia dirasakan oleh semua kalangan. Termasuk anak-anak yang tidak turut memilih di pemilu. Mereka dengan mudah tertawa meneriakkan "Cak Imin", "Sorry yee", "Omon omon omon", "Gemoy", dan lain-lain. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tahu, bahkan lebih mendalami tren tersebut.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline