Lihat ke Halaman Asli

KESAMAAN RADIX WP DENGAN DEDE OETOMO, KETUA GN

Diperbarui: 24 Juni 2015   22:44

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gadget. Sumber ilustrasi: PEXELS/ThisIsEngineering

Radix Wp, kompasiana paling populer (baca; nyeleneh) ternyata memiliki kembarannya juga. Namanya Dede Oetomo, ketua GAYA NUSANTARA, organisasi gay tertua di Indonesia, yang sekarang sedang mencalonkan diri sebagai anggota komisioner komnas HAM, Selasa, 16/10/2012. Kesamaan itu antara lain;

1. Sama-sama membolehkan LGBT dengan alasan HAM. Padahal HAM versi Indonesia berbeda dengan HAM versi Barat.

2. Sama-sama menganggap LGBT itu anugerah dari Tuhan. Padahal Islam, Yahudi, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu, alias agama-agama besar dunia, menentang keras kelainan seksual menyimpang itu.

3. Sama-sama menganggap LGBT itu bukan dosa. Padahal LGBT dosa atau tidaknya adalah domain agama, bukan domain manusia-manusia yang tidak taat agama seperti Dede atau anti agama seperti Radix wp.

4. Menginginkan legalitas pernikahan LGBT di Indonesia seperti lazimnya di negara-negara Barat. Kalau ini diterapkan, mungkin Indonesia akan mengikuti jejak kota Sodom, Gomorra, dan Pompei, yang dibinasakan Allah SWT dengan gempa bumi vulkanik atas kebiasaan yang sangat buruk ini.

5. Memandang Syiah dan Ahmadiyah, 2 ideologi yang tidak populer di dunia muslim Sunni, sebagai keyakinan beragama seseorang dan pantas dibela. Padahal Syiah rajin mencaci maki para sahabat yang dijamin masuk surga, dan istri-istri beliau seperti Sayyidah Aisyah RA, sementara Ahmadiyah sendiri mengakui dalam kitab sucinya, Tazkirah, bahwa ada nabi lain selain rasulullah SAW, Mirza Ghulam Ahmad, ada tanah suci lain selain Mekkah dan Madinah, yakni Qadian dan Lahore, ada kitab suci lain selain Alqur'an, Tazkirah.

6. Selalu menebarkan ketakutan bahwa Islam itu kejam, barbar, penindasan kepada kaum minoritas, dan sebagainya. Padahal mereka sendiri yang tidak mengerti Islam, tapi berbicara banyak tentang Islam. Mirip Tong Kosong Nyaring Bunyinya.

7. Menganggap penistaan agama seperti film IOC, Innocence of Muslim, sebagai kebebasan berpendapat, yang tidak perlu dibuat UUnya. Padahal kebebasan berpendapat itu tidak boleh bertentangan dengan UUD 1945 dan Pancasila.

8. Menganggap remeh bahaya laten psikologis dan kriminalitas di balik legalisasi LGBT. Masih ingat peristiwa pembunuhan sadis Ryan si tukang jagal dari Jombang? Karena jarangnya populasi LGBT di Indonesia, kalau mereka tersakiti oleh pasangan intimnya, mereka bisa brutal seperti hewan yang terdesak oleh manusia.

9. Yang paling penting, menganggap agama itu sebagai budaya, yang bisa diutak-atik seenak hawa nafsunya. Padahal Vatikan sendiri melaknat umat Katolik seperti Dede buat menikahi pasangan homonya, sementara Radix yang jelas-jelas mengaku bertuhan tanpa melalui agama, tentu saja tidak ingin kehidupan agama mencampuri kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia akibat ideologinya yang ultra sekuler dan ultra liberal (mirip ideologi Zionis internasional).

Semoga Allah SWT selalu menyelamatkan kita, keluarga kita, dan negeri ini dari bahaya paham-paham yang buruk. Mengingat negara asal paham-paham itu sekarang sedang di ambang kehancurannya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline