Lihat ke Halaman Asli

Ang Tek Khun

TERVERIFIKASI

Content Strategist

Wish List: Cara Sederhana Jelajah Diri dan Menemukan Makna Hidup

Diperbarui: 22 Januari 2016   04:33

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Dok Pixabay"][/caption]

Event itu datang lagi. Diumumkan di pengujung tahun, saya bergeming. Sampai pesan itu tiba. Seorang kompasianer mengontak saya. Dan, dugaan saya benar. Ia mengajak membentuk tim bertiga dan mendaftar atas nama (tim) blogger Yogyakarta. Namun, seperti kisah season sebelumnya, saat Datsun Risers Expedition membuka jelajah Sulawesi, kami gagal menemukan "oknum" ketiga untuk dibajak agar memenuhi syarat. Agar kesempatan masih terbuka, kami pun mendaftar secara perorangan melalui Kompasiana.

Alhasil? Pengumuman peserta Etape I (11-15 Januari 2016) bikin baper (terbawa perasaan) sehingga jadi caper (mencari perhatian) dan bikin laper (galau). Kami gagal jadi "soulmate" karena nama teman ini tidak tercantum sebagai peserta. Kami bertemu dan berbicara positif, termasuk keinginannya untuk mendaftar sebagai calon peserta Etape II dan Etape III yang peluangnya masih terbuka hingga kini.

Momentum ini berkunjungan dalam hitungan pendek pada hari-hari pertama mengawali tahun 2016. Itu sebabnya dalam remang kabin pesawat CRJ1000 NextGen GA665 penerbangan Yogyakarta-Balikpapan, usai take off dan menyelesaikan santap malam, saya pun tercenung...

[caption caption="Dok Pribadi"]

[/caption]

* * *

Bikin resolusi di akhir tahun? Ah, terlalu mainstream. Bagus di muka, dilupakan di akhir. Besar pasak daripada payung. Bikin frustrasi tanpa prestasi. Terasa seperti di-PHP-in orang sekabupaten. Minta saja tips dari para ahli bagaimana membuat resolusi yang baik dan benar. Jawaban mereka akan mengandung kata-kata, "Resolusi itu harus realistis, terukur, dan bisa dicapai. Tidak berlebihan agar tidak membuat Anda stres."

* * *

Ada tiga peristiwa penting dalam hidup seseorang, demikian ungkap Kho Ping Hoo, pengarang cerita silat (cersil) legendaris yang membius entah berapa (ratus?) ribu pembaca pada eranya--membuat mereka lupa waktu, lupa belajar, lupa bikin pe-er, dan dihukum guru-guru karena membaca cersil karyanya di kelas pada jam pelajaran. Pengarang asal Solo ini menyebut jelas: kelahiran, pernikahan, dan kematian.

Yang pertama dan ketiga berbicara tentang kekuasaan Allah yang mutlak, mengapit rentang ruang dan waktu serta peran manusia dalam rencana hidup seseorang. Kita tidak bisa menolak, bahkan dramatisnya, tidak tahu-menahu rahasia ilahi ini. Setali tiga uang dengan kematian--datang tak diundang, diundang tak datang-datang.

[caption caption="Dok Pixabay"]

[/caption]
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline