Lihat ke Halaman Asli

Muhammad Adib Mawardi

TERVERIFIKASI

Sinau Urip. Nguripi Sinau.

Uang, Utang, dan Persahabatan

Diperbarui: 13 Januari 2021   13:46

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi alternatif utang (kontan) 

Dengan memberikan utang kamu akan berpeluang kehilangan dua hal: uang dan persahabatan. Akan tetapi dengan tidak memberinya, setidaknya kamu akan kehilangan salah satunya: persahabatan. 

Itulah petuah yang pernah saya dapat dari sebuah artikel yang terbit di media yang katanya sedikit nakal banyak akal. 

Benarkah kenyataannya demikian? Barangkali melalui tulisan ini kita akan menemukan gambaran lainnya. 

Memang, jika kita membahas soal utang, seakan hal ini adalah perkara yang takkan pernah ada habisnya untuk dikupas. Sebab di dalamnya terdapat pernak-pernik yang menyangkut kehidupan seorang anak manusia.

Mulai dari kebutuhan hidup, gaya hidup, hingga pemahaman akan arti kehidupan, dan lain sebagainya yang jika diteruskan akan menjadi sebuah bahasan yang teramat panjang. 

Manakala seseorang berutang untuk memenuhi kebutuhan hidup yang kian menghimpit, mungkin inilah alasan yang tepat bagi mereka yang memberi pinjaman. 

Akan tetapi, tentunya pemberian pinjaman ini juga harus disertai dengan garansi yang pasti, kapan pinjaman itu akan dikembalikan atau setidaknya ada skema tentang pembayarannya. Kecuali, jika Anda adalah seseorang yang berlimpah harta sekaligus kaya hati untuk tidak menarik atau mengungkit pinjaman itu sama sekali. 

Sebab jika tidak demikian, seringkali si pengutang itu lalai untuk segera mengembalikan pinjaman sehingga akan "makan hati". Entah itu karena faktor kesengajaan atau karena begitu bingungnya mereka untuk mencari cara untuk lekas menutupnya. 

Sebab, pola kehidupan mereka sudah terlanjur gali lubang tutup lubang. Pinjaman yang satu dibayar dengan pinjaman lainnya. Dan seterusnya. 

Selanjutnya, jika motif utang itu adalah karena tidak bisa mengerem gaya hidup, maka inilah yang akan berpotensi menjadi bencana. 

Penampilan ingin selalu tampak glamor, tatapi pendapatan minor. Jiwa sosialita tapi penghasilan masih taraf rakyat jelata. Inilah yang diantaranya akan menimbulkan beberapa masalah kehidupan, sebab tak mampu mengimbangi gaya hidup dengan tingkat penghasilan yang dimiliki. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline