Lihat ke Halaman Asli

Julita Hasanah

Masih Mahasiswa

Thrift Shopping, Aksiku Dukung NZE Dimulai dari Isi Lemari

Diperbarui: 24 Oktober 2021   20:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokumentasi Pribadi

"Mbok ya kalau jualan barangnya yang bagus. Barang bekas siapa yang minat ?"

Pernyataan di atas masih terngiang, diucapkan oleh seorang kawan saat mengetahuiku memulai sebuah bisnis kecil-kecilan berjualan pakaian bekas atau yang dikenal dengan "babebo" alias Baju Bekas Bos. Entah harus bersyukur atau tidak, pernyataan pedas di atas menghentikanku untuk meneruskan usaha pakaian bekas. Aku kemudian memilih fokus menekuni karir sebagai seorang akademisi tulen yang gemar mencicipi bangku kuliah di berbagai jenjang pendidikan. Ternyata, hal-hal yang kurang menyenangkan dalam hidup memang harus terjadi untuk mengantarkan kita menuju tempat yang bisa jadi lebih membahagiakan.  

Kalau dipikir-pikir,  respon kawanku saat itu merupakan cerminan kondisi masyarakat yang memang belum dapat menerima budaya berbelanja pakaian bekas atau yang kini hits dengan istilah "thrifting". Murahan, kotor, dan berbahaya merupakan sederet citra yang lekat dengan si babebo (Baju Bekas Bos).

Dokumentasi Pribadi

Sehingga wajar jika orang-orang sampai mati-matian menyembunyikan identitas pakaian yang mereka beli di pasar loak. Intinya jangan sampai kawan, tetangga, bahkan keluarga sendiri menangkap basah kita mengenakan pakaian bekas. Hahaha... terkesan sedikit berlebihan ya ? Tapi itulah realita yang terjadi.

Ngetren di Kalangan Anak Muda, Budaya Thrifting Curi Perhatian Dunia

Dilansir dari UrbanAsia, thrifting berasal dari kata 'thrift' yang artinya berkembang atau maju dan 'thrifty' yang diartikan sebagai cara menggunakan uang dan barang secara efisien. Berdasarkan dua kata tersebut, thrifting kemudian dimaknai sebagai kegiatan membeli atau berburu barang bekas.

Jika dulu berbelanja pakaian bekas dipandang sebelah mata, berbeda dengan kondisi saat ini. Berkat berputarnya tren fesyen ke model pakaian lawas, membuat thrifting digandrungi anak-anak muda. Di Indonesia sendiri, thrifting mulai naik daun semenjak pandemi hingga menjadi pop culture. Awalnya kegiatan tersebut didorong motif ekonomi untuk menekan pengeluaran membeli kebutuhan sandang, terutama saat pandemi dimana pendapatan masyarakat cenderung menurun.

Dokumentasi Pribadi

Ttingginya permintaan pakaian bekas pada segmen pasar anak-anak muda kemudian menumbuhkan peluang bisnis yang manis. Kini, banyak penjual pakaian bekas baik secara online maupun konvensional di dalam negeri. Tak hanya pakaian, jenis barang yang dijajakan kian beragam, mulai dari sepatu, tas, hingga aksesori, membuat tren thrifting kian mernarik.

Keuntungan Thrift Shopping (Dokumentasi Pribadi)

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline