Lihat ke Halaman Asli

Putri Ariani: Dikenal Karena Prestasi, Bukan Sensasi

Diperbarui: 12 Juni 2023   14:49

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kontes Bernyanyi | pixabay.com/lograstudio

Saya sepakat jika popularitas tidak berkorelasi dengan integritas. Buktinya, banyak orang yang populer namun tidak punya kapabilitas mengemban tugas. Sementara era digital, banyak orang berlomba menjadi populer. Bahkan menganggap parameter kesuksesan diukur dari seberapa banyak like, komentar, dan subscibe (follower).

Tak jarang orang yang nafsu ingin populer dengan mengumbar sensasi. Membagikan aib untuk dikonsumsi secara masal. Menjual keseksian, membuat provokasi, dan mencoba punya pandangan antimainstream di setiap kesempatan. Sehingga media sosial seolah penuh sesak dengan sensasi dan perdebatan konyol yang tidak berdampak secara langsung pada nasib pekerjaan, asmara, dan kebahagiaan manusia.

Di lingkup politik, popularitas menjadi sarana menunjang elektabilitas yang biasa diakali dengan pencitraan dan narasi mengada-ada. Di lingkup entertainmen, semua berlomba menjadi sok asik dan mendadak lebay tampil di depan kamera. Menunggu momentum viral dan diundang di FYP Trans TV atau bahkan podcast Mas Dedy Corbuzier.

Kebutuhan Inspirator Negeri

Ketika masyarakat yang tidak bisa lepas dari gadget bertambah, maka butuh konten inspiratif agar bisa survive menjalani hidup yang tanpa kejelasan karir di masa depan. Namun konten inspiratif nyatanya tidak laku di "pasaran", misalpun ada yang mengapresiasi, banyak pihak lain yang menghujat dengan tuduhan pencitraan dan riya'.

Saya banyak menulis konten inspiratif seperti ketika viralnya video Alfy Reff dengan Wonderland Indonesia-nya. Ada juga romantisme lintas negara antara Fiki Naki dan Dayana. Namun tetap kalah dijajah konten "Kebaya Merah" dan aksi Rebbeca Klopper dan lain sebagainya. Semakin berkembangnya zaman, manusia Indonesia memang semakin susah diinspirasi. Acara Mario Teguh pun lenyap dari peradaban.

Bahayanya, sensasi malah kadang dijadikan inspirasi untuk menunjang popularitas. Apalagi ketika menuntut artis agar edukatif memberikan tontonan, malah banyak yang menyalahkan balik dengan pernyataan bahwa mereka tidak ada hak dan tanggungjawab mengedukasi masyarakat alias penggemarnya.

Sang Malaikat, Putri Ariani

Kemarin (7/6), Putri Ariani mengejutkan dunia dengan aksi memukau di panggung America's Got Talent (AGT). AGT merupakan ajang pencarian bakat yang tidak terpusat di Amerika, namun seluruh dunia. Itulah mengapa banyak orang yang bermimpi bisa tampil di sana dan mendapatkan standing applause dari Simon Cowell. Saat tampil di AGT, Putri sudah berusia 17 tahun.

Viralnya Putri Ariana yang tentu menginspirasi jutaan masyarakat Indonesia, khususnya mereka yang berkebutuhan khusus. Bahkan, seharian saya menyimak reaction video orang-orang luar Indonesia yang ikut menangis bangga dengan perjuangan Putri Arian di AGT.

Sedikit mengenal Putri, ia merupakan jebolan juara Indonesia's Got Talent tahun 2014 saat berusia 8 tahun. Tampil juga di final The Voice Kids Indonesia di tahun yang sama. Bakatnya itu yang membuat banyak juri menangis ketika melihat performa anak bernama lengkap Ariani Nisma Putri ini.

Manusia Brilian

Itulah pujian Simon Cowell sesaat setelah menekan tombol Golden Buzzer yang artinya ia mendapat akses istimewa yang diberikan kepada kontestan agar bisa tampil secara langsung di panggung secara live di Televisi. Di usia yang ke-17, saat perkenalan ia terlihat seperti anak pada umumnya. Namun ketika mulai bernyanyi menggunakan pianonya, ia tampak sangat dewasa dengan suara penyanyi profesional.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline