Lihat ke Halaman Asli

Jeff Sinaga

Suka menulis, olahraga dan berpikir

Heritage of Toba: Destinasi Wisata Super Prioritas yang Dikombinasikan dengan Kearifan Budaya Lokal

Diperbarui: 13 November 2021   13:14

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gambar 1 Tampilan Konferensi Internasional pada zoom saat persiapan acara (Gambar dokumentasi pribadi)

Salah satu keunikan Danau Toba sehingga dikenal oleh dunia adalah karena proses terbentuknya merupakan hasil dari letusan dahsyat sepanjang sejarah umat manusia.

Letusannya bukan hanya sekali namun empat kali dalam sejarah, tercatat dimulai sejak 74.000 tahun lalu. Pengaruh letusannya membuat bumi menjadi gelap akibat abu vulkanik yang menghalangi cahaya matahari, sehingga banyak makhluk hidup yang mati.

Bukan hanya berdampak bagi flora dan fauna, letusan itu juga memunculkan pulau kecil di tengah danau tersebut, yakni pulau Samosir. Pulau dengan luas sekitar 2.000 km2 ini didiami oleh suku Batak Toba yang berjumlah sekitar 140 ribu jiwa.

Selain itu Danau Toba juga dikelilingi oleh 7 Kabupaten dengan kearifan budaya masing-masing daerah yang menjadi daya Tarik bagi para wisatawan baik luar negeri maupun dalam negeri untuk menikmati suguhan geopark sekaligus keunikan budaya setempat.

Salah satu upaya dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (KEMENPAREKRAF) dalam memperkenalkan Danau Toba sebagai Global Geopark dan destinasi wisata adalah dengan mengadakan Konferensi Internasional. Konferensi ini berlangsung di TB Silalahi Center, Toba Samosir, Sumatera Utara.

Konferensi Internasional ini dibagi ke dalam dua sesi yakni, sesi pertama membahas mengenai "Kaldera Toba: Menyambung Peradaban Zaman" dan sesi kedua membahas mengenai "Kolaborasi Budaya, Masyarakat, dan Pariwisata Toba".

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif begitu serius menghadirkan acara ini bagi masyarakat nasional maupun internasional dengan mengundang beberapa pembicara penting ternama dan terbaik di bidangnya masing-masing seperti:

  1. Hans Thulstrup, Senior Programme Specialist for Water and Environmental Sciences UNESCO Jakarta.

Pointer: Menjaga status dan pengelolaan Danau Toba setelah penetapan sebagai UNESCO Global Geopark pada 2020.

  1. Indyo Pratomo, Ahli Geologi Badan Geologi Bandung.

Pointer: Keunikan geologis Danau Toba sebagai potensi dan daya tarik sektor pariwisata.

  1. Prof. Harini Muntasib, Ahli Ekowisata IPB.

Pointer: Optimalisasi sektor pariwisata Danau Toba melalui pengembangan wisata berwawasan lingkungan.

  1. Annette Horschmann, Aktivis Lingkungan.

Pointer: Pelestarian ekosistem sekitar Danau Toba untuk keberlangsungan pengembangan wisata berwawasan lingkungan.

  1. Athan Siahaan, Fashion Designer.
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline