Lihat ke Halaman Asli

Jati Kumoro

nulis di podjok pawon

Mataram Kuno: Maharaja Pembunuh Musuh yang Sombong, Serangan Armada Laut Jawa dan Penaklukan Kamboja

Diperbarui: 16 Maret 2021   17:37

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

kebudayaan.kemdikbud.go.id

Pada periode tahun 760-780-an, Jawa berada dalam masa pemerintahan kekuasaan Dinasti Sailendra yang maharajanya terkenal dan ditakuti dengan julukan sebagai pembunuh musuh-musuh yang sombong tiada bersisa (sarvarimadavimathana). 

Julukan sebagai raja pembunuh tersebut tertulis di prasasti Ligor B yang ditemukan di Semenanjung Malaya-Thailand. Sedangkan dari prasasti Kelurak (782 M) yang berasal dari Prambanan Jawa tengah raja tersebut mendapat julukan sebagai pembunuh musuh-musuh yang gagah perwira (vairivaravramardana).

Julukan sebagai "raja pembunuh" ini menarik karena dituliskan juga di prasasti Nalanda yang ditulis oleh Raja Depaladeva dari Dinasti Pala di Bengala India. Prasasti ini merupakan sebuah piagam diplomatik antara dua orang raja besar dari dua kerajaan yang bercorak Buddha di pertengahan abad ke sembilan yang mana dalam prasasti ini Balaputradeva sebagai raja dari Swarnadwipa disebutkan nama wangsa keluarganya atau garis keturunan kebangsawanannya.

Dalam prasasti Nalanda disebutkan bahwa Samaragravira adalah ayah dari Balaputradeva. Samaragravira adalah putra dari Maharaja yang memiliki julukan sebagai pembunuh musuh yang sombong yang juga merupakan Raja Jawa. Ibu dari Balaputradeva adalah Tara, putri dari Dharmasetu. Disini tampak bahwa dalam prasasti Nalanda yang merupakan piagam diplomatik yang formal dan bermartabat  ini nama dari ayah, ibu dan kakek dari pihak ibu Balaputradeva disebutkan nama pribadinya, sedangkan nama kakek dari pihak ayahnya hanya disebutkan julukannya sebagai pembunuh pahlawan musuh  (sriviravairimathana) dan memerintah sebagai Raja Jawa.

Mengapa nama julukan sebagai raja pembunuh tersebut dipergunakan dalam sebuah piagam diplomatik? Bagaimana julukan tersebut disebutkan begitu meyakinkan di dalam kancah hubungan internasional dan penggunaannya diakui sampai dua generasi sesudahnya di sebuah tempat yang berjarak seribuan mil?

Untuk mencari jawabannya harus dimulai dengan melihat terlebih dahulu siapakah raja yang telah dibunuh oleh sang Maharaja dari Dinasti Sailendra yang disebut sebagai pembunuh musuh yang sombong. 

Fakta sejarah menunjukkan bahwa sang maharaja tersebut telah berusaha dengan keras dan mempunyai kendali secara militer di wilayah kekuasaannya sehingga bisa memulai pembangunan candi-candi yang besar dan megah untuk pemujaan terhadap Buddha. 

Serangkaian penaklukan atas raja-raja atau penguasa lokal jelas tak mungkin menghasilkan julukan sebagai  pembunuh musuh yang sombong. Hal ini hanya akan mengundang kebingungan dan mungkin malah cemoohan. Oleh karena itu julukan tersebut tidak mungkin terkait dengan serangkaian penaklukan raja-raja kerajaan kecil setempat.

Ada tiga kemungkinan penaklukan yang bisa menjadi dasar yang pas guna memperoleh julukan yang akan dihargai secara internasional dan layak disematkan ketika disebutkan kepada raja dari Dinasti Pala. Yang pertama adalah penaklukan raja atau penguasa dari kedatuan Sriwijaya yang berada di selat Malaka. Kedua adalah penaklukan penguasa kerajaan Khmer di Kamboja. Ketiga adalah penaklukan raja dari Kerajaan Champa di Vietnam Tengah-Selatan.

Untuk yang pertama, tidak ditemukan bukti sejarah yang secara langsung menunjukkan terjadinya peristiwa penaklukan Kedatuan Sriwijaya selain disebutkan bahwa Balaputradeva adalah Raja Swarnadwipa (sebutan untuk nama kuno pulau Sumatera dalam bahasa Sanskerta) dan merupakan sosok yang berasal dari dua generasi setelah Sang maharaja yang disebut sebagai pembunuh musuh yang sombong". Wangsa Sailendra diperkirakan telah menguasai Sriwijaya pada sekitar tahun 740-an yang ditandai dengan berhentinya Sriwijaya mengirimkan utusannya ke Negeri China

Agresi militer armada Jawa ke Champa yang dimulai pada 767 M dan berlangsug hingga 787 M telah tercatat dengan baik dalam sejarah China dan prasasti di Asia Tenggara. Pada 774 M, armada Jawa menyerang Kauthara. Mereka merampok dan membakar kuil Po Nagar serta merampas Patung Siva. Raja Champa yang bernama Satyavarman berhasil mengusir para penyerang dari Jawa tersebut dan menuliskan prasasti di Po Nagar pada 781 M yang menyatakan bahwa dirinya telah memperbaiki kuil yang terbakar. Selain itu juga menegaskan kembali bahwa dirinya telah memegang kendali atas wilayah tersebut.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline