Lihat ke Halaman Asli

Jaka Sindu TREK BOLA

Pemerhati dan pecinta sepak bola

Lupakan Olimpiade, Cuma Jadi Beban Pikiran

Diperbarui: 2 Mei 2024   15:55

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Foto: AFP/Karim Jaafar via bola.com

STY harus tampilkan strategi berbeda

Tadinya saya mengira, embel-embel lolos  Olimpiade memotivasi pemain untuk mampu melampaui batas kemampuannya, setelah habis-habisan lawan untuk menang lawan Korea Selatan. Ternyata menjadi finalis dan lolos Olimpiade malah menjadi beban yang menghantui pemain timnas U-23, dan bermain buruk saat semi final melawan Uzbekitan.

Pundak terasa berat, ketika semua berharap fans timnas menginginkan sekali lagi untuk menang berturut-turut 4 kali setelah mengalahkan Australia, Yordania, Korea Selatan, dan yang keempat Uzbekistan.

Kaki seperti dibanduli dengan besi, sehingga tak mampu berlari kencang, seperti lawan Korsel, pikiran melayang-layang dengan andai-andai yang menggunung, dan menimpa setiap tubuh pemain timnas U-23 Indonesia. Andai menang bagaimana ? Andai kalah bagaimana ?

Pertanyaan terakhir seolah menjadi beban yang tak kuat dipikul 11 pemain yang berhadapan dengan Uzbekistan yang tak pernah bicara Olimpiade, tapi yakin bisa menang. Uzbekistan kondisi fisiknya  tak menurun sama sekali. Bermain luar biasa.

Anti-klimaks

Pada tulisan sebelumnya saya mengkhawatirkan penurunan performa  "Timnas U-23 Indonesia Bisa Menang", atau antiklimas, sebagai akibat mengeluarkan tenaga habis-habisan untuk mengalahkan Korea Selatan, sebagai tim yang selalu melumat Indonesia dalam 10 tahun terakhir.

Mengalahkan tim superior seperti Korea Selatan butuh tenaga ekstra, motivasi superior, dan keberuntungan. Anak-anak timnas U-23 mengalami itu dan berhasil, dengan perjuangan maha berat, penuh drama dalamadu penalty yang penuh spirit.

Setelah kemenangan itu, semua puas, euphoria, dan ektase. Ektase adalah puncak kepuasan yang tiada tara, gembira, bahagia, hingga melupakan rasa sakit yang dideritanya.

Ketika ekstase itu hilang dalam sekejap, karena 2 hari kemudian harus bentrok dengan tim yang secara statistic superior yaitu Uzbekistan. Seluruh punggawa tak bisa membohongi alam bawah sadar mereka, seolah tak boleh menikmati kemenangan lebih lama lagi, tak boleh ! tak boleh !.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline