Lihat ke Halaman Asli

Isur Suryati

TERVERIFIKASI

Menulis adalah mental healing terbaik

Joki Karya Ilmiah, antara Tanggung Jawab Moral dan Peluang Menghasilkan Uang

Diperbarui: 24 Februari 2023   03:00

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi menulis karya ilmiah tanpa joki (Pexels.com/Polina Zimmerman)

Ibarat makan buah simalakama, dimakan mati emak, tak dimakan bapak yang mati.

Peribahasa di atas menggambarkan suatu situasi yang sulit atau dilematis, di mana seseorang harus memilih di antara dua pilihan yang sama-sama buruk atau merugikan. 

Secara kiasan, peribahasa ini merujuk pada buah simalakama yang konon dapat membuat orang kebingungan dan tidak tahu harus memilih untuk memakannya atau tidak. Hal ini cocok sekali dengan fenomena kasus joki ilmiah yang sedang viral akhir-akhir ini.

Dilema yang dialami Firman

Firman adalah seorang lulusan S1 yang sedang mencari pekerjaan. Sayangnya, meskipun ia sudah berusaha mencari pekerjaan dengan giat, ia selalu ditolak oleh perusahaan-perusahaan yang ia lamar. Kondisi ini membuat Firman semakin bingung dan frustasi karena ia merasa tidak tahu harus berbuat apa.

Beberapa teman Firman yang belum lulus kuliah kemudian mengajaknya untuk membantu mereka menyelesaikan skripsi dengan iming-iming bayaran yang lumayan. 

Awalnya, Firman merasa ragu karena ia tidak ingin terlibat dalam tindakan yang tidak etis, namun akhirnya ia memutuskan untuk membantu teman-temannya tersebut karena merasa butuh uang untuk biaya hidupnya.

Dari sinilah, Firman mendapat ide untuk membuka jasa pembuatan skripsi. Ia memanfaatkan keahlian yang dimilikinya untuk membantu orang-orang yang kesulitan menyelesaikan skripsi. 

Firman mengiklankan jasa pembuatan skripsinya melalui media sosial dan internet, dan tidak lama kemudian ia mendapatkan beberapa klien.

Meskipun bisnis ini terlihat menguntungkan, Firman sebenarnya merasa tidak nyaman dengan tindakannya. Ia merasa bahwa membantu orang menyelesaikan skripsi tidak etis dan melanggar prinsip akademik yang seharusnya dijunjung tinggi. 

Selain itu, Firman juga khawatir bahwa tindakannya tersebut dapat berdampak negatif pada masa depannya.

Karena itu, Firman akhirnya memutuskan untuk mengakhiri bisnis jasa pembuatan skripsi tersebut dan berusaha mencari pekerjaan dengan cara yang lebih etis dan jujur. Ia memperbaiki CV-nya dan memperbanyak mencari lowongan pekerjaan. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline