Lihat ke Halaman Asli

Isur Suryati

TERVERIFIKASI

Menulis adalah mental healing terbaik

Antara Percaya dan Tidak, Fenomena Makhluk Tak Kasat Mata

Diperbarui: 15 Februari 2022   21:48

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi ruang tamu |pexels.com/Alexandr Podvalny

Antara percaya dan tidak

Hingga kini, saya masih saja merasa tidak percaya dengan kejadian, yang menurut saya agak 'mistis' ya. Kompasianer boleh percaya atau tidak. Karena, sejujurnya saya juga masih bimbang, antara percaya dan tidak. Saya sebenarnya percaya dan yakin bahwa mahluk ghoib itu ada. Bukankah, angin, cinta, suka, malaikat, jin, dan kentut juga tak kasat mata, kan? Jadi, tentang hal itu, saya percaya. 

Saya juga sering mendengar cerita dan kisah-kisah tak kasat mata ini dari rekan kerja, keluarga, dan tetangga. Hasilnya, saya selalu terpesona dan melongo mendengar cerita-cerita tersebut. Finalnya di rumah, saya ketakutan sendiri. Bahkan, ke kamar mandi pun tidak berani kalau malam-malam. Memori tentang kisah mistis dan menakutkan ternyata tahan lama, ya. Lepas satu bulan, baru saya dapat menjalani kehidupan dengan normal kembali. 

Sebelum satu bulan, saya selalu merasa ada yang mengikuti, entah siapa. Rumah terasa bagai latar dari kisah yang diceritakan tersebut. Beberapa peristiwa yang saya alami, ibarat susunan kejadian dalam kisah, saya merasa bagai tokoh utama dalam cerita itu. Ah, sungguh merepotkan, ya dampaknya.

Dengan demikian, bila ada yang bercerita soal mahluk tak kasat mata yang 'menakutkan', saya pergi jauh-jauh deh. Kapok dengan efeknya pada memori otak. Pokoknya, saya percaya saja, dengan kisah-kisah itu. Namun, saat mengalaminya sendiri. Entah mengapa, saya bertanya, "Benar tidak, ya kejadian yang baru saya alami?" Kesannya seperti tidak percaya.

Begini kisah mistis yang saya alami

Jum'at, dua puluh empat Juli 2015 saya di rumah berdua saja sama 'Si bontot' sekarang statusnya jadi si tengah, karena anak ketiga lahir pada tahun 2019. Suami ada tugas luar dari kantornya, ke Bandung mengambil blanko ijazah SMP se-kabupaten. Si Sulung nginep di rumah neneknya. Awalnya saya tidak mengizinkan dia menginap. Tapi, karena air mukanya memelas, saya pun akhirnya luluh mengizinkan ia pergi.

Bukan tanpa alasan, saya merasa tidak kerasan berdua saja di rumah. Alif yang baru berumur dua tahun, ritme tidurnya tidak teratur. Dari bayi dia selalu tidur malam, diatas pukul dua belas. Terkadang pukul dua dia baru bisa terlelap. Saya relakan waktu tidur saya untuk begadang menemaninya. Hampir tiap malam, sejak dia lahir.

Biasanya, kalau suami atau Si sulung ada di rumah. Saya bisa terlelap sebentar. Dari Maghrib hingga pukul sebelas malam. Lumayan, memulihkan energi. Pukul sebelas hingga pukul dua, gantian saya yang jaga. Suami bagian tidur. Begitulah ritme tidur kami sekeluarga.

Sebenarnya anak saya yang pertama pun, sekarang usia delapan tahun. Ketika bayi selalu begadang. Bedanya, dia asyik main sendiri dengan robot-robot kesayangannya. Jadi semalam apapun dia tidur. Saya dan suami tidak terganggu. Kami bisa tidur nyenyak. Kalau pukul dua belas saya terbangun. Dia sudah terlelap di samping saya dengan robot-robotnya. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline