Lihat ke Halaman Asli

Irwan Rinaldi Sikumbang

TERVERIFIKASI

Freelancer

Suami Orang Meninggal Ditangisi, Suami Sendiri Masih Hidup Diomeli

Diperbarui: 23 Februari 2020   19:26

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tangis Bunga Citra Lestari atau BCL saat pemakaman jenazah Ashraf Sinclair di San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat, Selasa (18/2/2020). Ashraf Sinclair mengembuskan napas terakhir pukul 04.51 WIB pagi tadi. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Judul di atas saya ambil dari sebuah postingan di media sosial. Konteksnya adalah ketika suami artis Bunga Citra Lestari (BCL), yang juga seorang artis asal negara tetangga Malaysia, Ashraf Sinclair, meninggal dunia, Selasa (18/2/2020) lalu.

Berita seputar hal tersebut memang cukup banyak menghiasi media massa dan jadi perbincangan hangat di media sosial. Saya sendiri lumayan terhanyut dalam kesedihan saat menonton siaran langsung pemakamannya di San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat. Saya membayangkan tentu juga banyak orang yang terharu.

Tapi ketika saya membaca postingan di atas, saya tertawa sendiri. Hanya saja tadinya itu saya anggap sekadar lucu-lucuan saja. Sungguh awalnya saya tidak punya niat untuk mengangkatnya sebagai tulisan di Kompasiana.

Tapi begitu tadi pagi, Minggu (23/2/2020), saya menonton berita seputar dunia artis yang ditayangkan salah satu stasiun televisi nasional, saya langsung tergelitik. 

Diberitakan bahwa ternyata sampai beberapa hari setelah dimakamkan, masih banyak warga biasa yang bukan keluarga almarhum sengaja datang berziarah ke makam Ashraf.

Alasan mereka sewaktu diwawancarai pihak televisi adalah karena mereka penggemar Ashraf, yang disebut sebagai sosok suami yang ideal. Selain itu mereka juga sekaligus penggemar BCL.

Menurut saya pengaruh media massa dan media sosial sudah demikian besar. Karena dari situlah publik mengetahui betapa pasangan Ashraf-BCL ini selalu terlihat mesra dan jauh dari gosip miring.

Jadi kalau pasangan itu tiba-tiba seperti burung yang sebelah sayapnya patah, wajar saja banyak penggemar mereka yang menangisi. Ini kan ibarat kalau kita menangis saat melihat adegan sedih di sebuah film atau sinetron.

Namun saya menduga sebagian peziarah sebetulnya hanya ingin jalan-jalan melihat komplek San Diego Hills. Bukankah kalau tidak ada anggota keluarga yang dimakamkan di pemakaman mewah itu, orang akan sungkan ke sana? Nanti kalau ditanya petugas keamanan, apa tujuan kedatangan, harus menjawab apa?

Soalnya San Diego Hills bukan destinasi wisata, meskipun tamannya indah seperti yang terlihat pada tayangan televisi. Tak heran beberapa peziarah tidak menunjukkan ekspresi sedih, justru seperti orang yang lagi berekreasi.

Tapi bila orang berkunjung walaupun tidak punya keluarga yang dimakamkan di sana, sebetulnya juga tidak apa-apa. Toh bisa saja alasan untuk menjajaki membeli kavling "rumah masa depan" di sana.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline