Lihat ke Halaman Asli

Inspirasiana

TERVERIFIKASI

Kompasianer Peduli Edukasi.

Pelukis Masa Lalu

Diperbarui: 27 Oktober 2022   11:54

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi Pelukis Masa Lalu, sumber foto: Vickyvsalazar dari Pinterest

Seorang teman berjanji akan membawaku hari ini. Kami akan pergi menemui seorang wanita bernama Mariah yang tinggal dekat Danau laba-laba di Hayward.

Sebenarnya aku bukanlah penikmat seni apalagi lukisan. Hanya selintas memperhatikan dan kadang tak paham benar maksud di dalamnya. Tapi Lana, temanku itu, menganggap pikiranku terlalu stres dengan urusan kantor. Aku perlu melakukan hal yang baru, katanya.

Tepat pukul sembilan, gadis itu muncul dengan senyum lebar. Dia menyodorkan paperbag yang ketika kuperiksa berisi dress pendek berwarna hijau ketimun.

"Kau tidak boleh dilukis memakai koleksimu yang tersimpan di lemari. Kau sudah mengenal keunikan pakaianmu sendiri dan itu tidak akan memancarkan apa pun..."

Aku diam saja.

*

Seperti biasa ada banyak orang yang pergi memancing untuk menikmati liburan ini. Penginapan di sekitar Danau laba-laba, penuh dengan turis lokal dan juga yang sengaja datang dari jauh.

Ketika kami sampai di sana, Lana tampak sangat bersemangat. Dia bahkan menyempatkan membeli beberapa makanan dari penjaja yang kupikir usianya masih remaja.

Aku memperhatikan sebuah bangunan yang tua dan kotor, hampir tidak layak untuk ditinggali seorang pelukis andal. Para tamunya pasti mengeluarkan komentar yang kurang menyenangkan meskipun mereka berkata apa adanya.

Seorang wanita dengan celemek apron dapur mempersilakan kami terus masuk lewat pintu berwarna coklat. Dia tak menawarkan kami duduk meski di ruangan itu terlihat sebuah sofa merah dengan banyak lukisan tersimpan di belakangnya.

Tidak jauh berbeda dengan kesan di luar rumah, ruang kerja wanita itu tampak sudah lama tidak diurus dan jauh dari kesan rapi. Tentu saja karena pelukis mungkin membutuhkan mood dari posisi natural benda-benda itu. Aku tak boleh banyak protes.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline