Lihat ke Halaman Asli

Inspirasiana

TERVERIFIKASI

Kompasianer Peduli Edukasi.

Terbanglah Camar (VI - Tamat)

Diperbarui: 31 Oktober 2022   11:44

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Terbanglah camar | Foto: Wirestock/Freepik

Sebelum membaca lebih lanjut, silakan baca lima bagian sebelumnya: Terbanglah Camar (I), Terbanglah Camar (II), Terbanglah Camar (III), Terbanglah Camar (IV), Terbanglah Camar (V)

Fanny merasa bagai mimpi ketika melihat seorang wanita setengah baya berdiri di hadapannya. 

Mama! Gaung yang lama terlupakan itu kini berdentang nyaring di hatinya. Antara rindu dan benci, ia hanya memandangi mama tanpa dapat berkata-kata.

"Fanny," Mama memanggilnya dengan bibir bergetar. "Mama minta maaf. Mama tidak pernah memperhatikan kamu. Ketika kamu kecelakaan, mama sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Mama ..."

"Ma ..."

***

"Kamu hebat!" Peter tersenyum hangat setelah memeriksa Fanny. "Kemajuanmu sangat pesat. Mungkin dua atau tiga hari lagi, kamu sudah boleh pulang."

Fanny memandang Peter dengan mata berkaca-kaca. Dewa penolong, batinnya, betapa miripnya kamu dengan Geld. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku sudah mati sejak kemarin-kemarin. Tetapi ...

"Hei," Peter memandangnya dengan heran. "Kamu tidak gembira, Fanny?"

"Saya gembira, dokter."

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline