Lihat ke Halaman Asli

H.I.M

TERVERIFIKASI

Loveable

Ketika Karier Menghambat Impian, Haruskah Merelakan Impian Terkubur?

Diperbarui: 5 Mei 2021   22:43

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustras merencanakan kuliah ke luar negeri (Sumber: zenius via edukasi.kompas.com)

Sejak kuliah saya sudah membuat 5 bucket lists, yaitu berupa target hidup yang ingin dicapai kelak. Tujuannya agar menjadi pengingat impian apa yang ingin dicapai dan memotivasi untuk mewujudkannya. Saya sadar hidup itu harus punya tujuan jelas agar kita bisa mengatur masa depan. Sedikit informasi 5 bucket list yang saya buat saat kuliah antara lain:

  1. Lulus IPK 3,5
  2. Kerja di perusahaan prestisius
  3. Menjadi manager sebelum usia 35 tahun
  4. Kuliah S2 di luar negeri
  5. Menjadi anggota dewan legislatif atau memiliki karir politik

Hingga saat ini nomor 1 hingga 3 sudah terwujud. Artinya saya perlu menyiapkan diri untuk mewujudkan poin ke 4 dan 5. Namun ternyata hambatan dan tantangan begitu terasa untuk mewujudkan bucket list ke-4. 

Apa yang memotivasi saya bermimpi untuk kuliah S2 di luar negeri? Saya ingin merasakan pendidikan di luar negeri agar bisa lebih mandiri, berpikiran terbuka (open minded) dan tentu saja sekalian berwisata. 

Saya pernah mengutarakan impian saya kepada beberapa teman kuliah yang dekat dengan saya termasuk Kak Novi. Target saya ingin mencoba mencari beasiswa untuk negara-negara di Eropa salah satunya Jerman. 

Namun hingga saat ini impian itu belum terwujud namun sahabat saya si Novi justru sudah mencicipi pendidikan S2 di Jerman. Jujur ada perasaan iri (positif) kapan saya bisa mewujudkan mimpi saya ini

Saya introspeksi diri apa hambatan terbesar saya untuk apply beasiswa ke luar negeri. Ternyata hambatan terbesar saya adalah karir. 

Hambatan Karir

Saya seakan sudah masuk zona nyaman dalam bekerja. Mendapatkan gaji bulanan, posisi yang cukup tinggi, tunjangan yang membuat bibir ini tersenyum dan saja berkarir di perusahaan yang cukup prestisius sesuai mimpi saya yang kedua.

Siapkah tanpa penghasilan? 

Ketika saya mendaftar beasiswa di luar negeri artinya risiko terburuk yang terjadi ketika diterima adalah saya harus resign dari kantor. Ini karena kantor swasta seperti tempat saya bekerja tidak ada istilah untuk cuti kuliah layaknya ASN. 

Suka tidak suka artinya saya menyiapkan mental untuk tidak ada pemasukan bulanan seperti yang saya terima. Pikiran kian berkecamuk, ada orangtua yang masih butuh kiriman bulanan dari saya, rencana KPR rumah dengan cicilan yang cukup besar dan hilangnya kesempatan untuk naik jenjang karir di kantor. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline