Lihat ke Halaman Asli

Yuhesti Mora

Pecinta Science dan Fiksi. Fans berat Haruki Murakami...

Menyeberang

Diperbarui: 3 Januari 2019   04:22

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Saat malam tiba di sebuah kota, kehidupan di dalamnya berangsur-angsur memusat ke tengah-tengah---tempat berkumpulnya mall, kafe dan pasar malam. Nyaris semua kendaraan hilir mudik dari dan ke arah itu. 

Sementara di sebuah daerah tidak jauh dari sana dan dipisahkan oleh sungai, dengan infrastruktur jalan yang berbukit-bukit---tepat pukul delapan---nyaris tidak ada kehidupan. Jikalau hujan turun, pengendara sepeda motor harus berhati-hati agar tidak tergelincir sebab di sana-sini banyak jalanan yang tertutup longsoran tanah yang liat setelah terkena air.

Di sana hampir semua orang memiliki kebiasaan yang sama, bersantai di atas karpet di dalam rumahnya masing-masing. Ada yang menyantap makan malam, mengerjakan pekerjaan rumah atau bahkan menonton siaran televisi. Itu pun jika listrik dari PLN sedang mengalir. Jika tidak maka terdengarlah umpat para orang tua tentang zaman batu dan sebagainya. 

Sementara anak-anak duduk melingkari sebuah lilin dan memperhatikan api yang bergeliat ke kanan dan kiri oleh angin. Takjub. Di dalam pikirannya barangkali api itu semacam pertanda Tuhan sedang bermain sulap. Kemudian di tempat tidur mereka bermain-main dengan bayangan jemarinya dengan membentuk rusa dan burung, yang-entah-mengapa-selalu-tidak-bernama.

Di sisi lain---seberang sungai---listrik tidak pernah putus mengalir seolah lumbungnya selalu melimpah. Barangkali karena itu orang-orang yang tinggal di sana berlomba-lomba memasang lampu paling banyak dan paling terang tanpa perlu was-was.

 Keramaian di jalan tidak pernah mati sebab cahaya yang terang sering kali membuat orang-orang lupa jika malam sudah tiba dan sudah waktunya mengistirahatkan tubuh di peraduan masing-masing. Namun, kesadaran untuk tidur sering kali baru tiba ketika burung-burung gereja yang bertengger di atas atap dan kabel-kabel listrik mulai bercuit-cuit.

Sebuah keluarga di daerah yang sebut-saja-bersisi-gelap, malam-malam duduk melingkar, ayah, ibu dan kedua anaknya yang berusia 10 dan 17 tahun. Sudah sejak dulu yang entah tepatnya kapan, ayah dan ibunya bercerita bahwa betapa beruntungnya mereka yang hidup di seberang sungai. Tempat di mana cahaya tidak pernah padam. 

Sesekali ayah dan ibu mereka secara bergantian menceritakan pengalamannya menyeberang dan merekam semua ekspresi yang tidak pernah mereka cecap sepanjang hidupnya. Mereka pikir itu adalah kebahagian yang hakiki dan alangkah baiknya jika kedua anaknya kelak dapat mencecap semua bentuk kebahagiaan yang demikian.

Orang tuanya bermimpi dapat membelikannya buku-buku, baju, serta sepatu baru sementara itu kedua anaknya bermimpi bisa menjadi kaya. Cara menjadi kaya yang terpikirkan oleh mereka adalah dengan menjadi orang yang cerdas. Menjadi anak sekolahan. Menjadi seseorang yang istimewa. Kata "istimewa" merujuk pada sesuatu yang lain daripada yang lain. Berbeda.

Di sisi ini, di daerah di mana peradaban gotong royong masih sangat kental, empat orang yang berbeda memiliki satu tujuan yang sama. Mereka bahu membahu untuk mewujudkannya. Dan mereka tahu betul bahwa semuanya harus dimulai dari diri mereka sendiri. Tubuh, pikiran dan hati semuanya harus punya tujuan yang sama. 

Dan oleh karena itu ayah meyakinkan ibu, dan ibu beserta ayah meyakinkan anak-anaknya untuk memiliki tujuan yang sama pula. Mereka butuh waktu bersama dan penghasilan yang lebih banyak. Dari tabungan yang diperoleh dari gaji semasa bekerja di seberang, mereka membeli sepetak kebun dan menggarapnya bersama-sama.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline