Lihat ke Halaman Asli

MEA, Lift Jatuh dan Refleksi Diri Profesionalisme Kita

Diperbarui: 15 Desember 2015   11:49

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="SDM (dokpri)"][/caption]Pemberlakuan MEA tinggal dalam hitungan hari. Saat itu barang dan jasa akan bebas bersaing di negara Asean. Negara yang siap akan meraup keuntungan. Sebaliknya negara yang tidak siap akan tergilas karena kalah bersaing. Untuk ketenaga kerjaan, SDM kita akan bersaing head to head dengan negara tetangga. Kualitas beserta produktifitas tenaga kerja akan sangat menentukan untuk menguasai panggung pemenang.

Tanggal10 Desember lalu terjadi kecelakaan lift di Gedung Arkadia. Lift yang ditumpangi tiga penumpang jatuh dari lantai 7 gedung. Menewaskan dua penumpang karyawan Nestle. Seorang lagi karyawan cleaning service luka berat.

Jatuhnya lift di gedung Arkadia pada hari Kamis lalu merupakan kejadian langka. Sangat langka untuk negara maju. Di Indonesia pernah juga terjadi peristiwa lift jatuh, tapi tidak sering. Pengamanan lift modern dibuat berlapis, sehingga jika salah satu komponen utama gagal masih ada sistem keamanan lain yang bisa diandalkan.

Lift atau elevator merupakan perlengkapan yang tidak bisa dipisahkan dari bangunan tingkat tinggi. Adanya penemuan lift ini kurang lebih satu setengah abad lalu mendorong maraknya pembangunan gedung gedung vertikal. Tanpa adanya lift akan mengakibatkan penghuni gedung naik turun puluhan atau ratusan meter dengan menggunakan kaki menapaki tangga. Hampir semua perkantroan di kota modern menggunakan lift untuk sarana transportasi antar lantai gedung secara vertikal.

Sebagian dari kita yang hidup di kota besar akan menjadi terbiasa dengan naik turun lift ini dalam beraktifitas. Setiap jam jam tertentu di bangunan perkantoran dipadati kerumunan orang mengantri untuk menggunakan lift. Jam jam sibuk penggunaan lift adalah pagi masuk kantor, siang istirahat dan sore pulang kantor. Menggunakan lift sudah menjadi second nature, tidak perlu dipikirkan lagi caranya. Tidak memerlukan keahlian khusus. Tinggal pencet tombol, tunggu lift datang, pintu terbuka, masuk pencet tombol, pintu terbuka dan keluar.

Kepedean kita dalam menggunakan lift terlihat ketika akan masuk dan pintu mulai menutup. Dengan tanpa ragu kita menyusupkan badan diantara dua pintu yang mulai bergeser menutup. Ketika sepasang bilah pintu ini menggencet tubuh, maka secara otomatis pintu akan membuka lagi. Voila... sistem pintu bekerja sempurna. Tanpa perlu ada yang ditakutkan tergencet pintu yang sedang bergerak menutup.

Setelah beribu ribu kali naik lift, kita mendapati sangat jarang kena trouble. Semua berjalan mulus mulus saja. Pengalaman lebih seratus tahun dalam memproduksi dan mengoperasikan lift membuat sistem lift ini bisa disempurnakan dengan peralatan peralatan pencegah kecelakaan. Tali pengangkat rangkap, rem otomatis dan penyerap impact merupakan beberapa fitur pengaman. Pada kenyataannya berdasarkan statistik lift adalah kendaraan yang sangat aman. Tapi tunggu dulu. Kendaraan teraman jika lalai dalam pemeliharaan bisa berubah menjadi pembunuh yang mengerikan.

Keamanan operasi lift selama ini tidak seharusya membuat terlena pengelola gedung bertingkat. Ancaman mengintai tanpa disadari jika lalai. Gerakan mekanis beribu ribu jam dari komponen lift akan membuat aus. Metal fatigue akibat beban berulang merupakan ancaman yang tak terlihat. Komponen elektronik pengontrol lama lama juga akan bertingkah aneh. Inspeksi rutin harus dilakukan untuk menjamin keselamatan pemakai lift.
Di salah satu perkantoran saya pernah melihat kertas hasil inspeksi kelayakan dari lift ditempelkan di lift tersebut. Ini akan menentreramkan hati para pemakainya.

Penyelidikan polisi terhadap penyebab jatuhnya lift Arkadia ini maih belum mendapatkan kesimpulan. Hanya saja dugaan awal polisi kemungkinan dua penyebabnya. Kelalaian atau sabotase. Apapun penyebabnya ini menjadi stigma buruk untuk nama Indonesia dalam kemampuan mengelola gedung. Faktor kelalaian ini bisa disebabkan karena membiarkan keausan melemahkan material komponen lift. Bisa juga karena teknisi tidak serius dalam mengerjakan perbaikan.

Yang memprihatinkan adalah sikap abai terhadap keamanan. Seperti kita tahu lift ini mempunyai sistem pengamanan berlapis. Tali pengangkat bukan cuma satu. Ketika dalam pengoperasian ada kejadian salah satu tali putus, masih ada tali lain yang kuat menahan kamar lift ini dari jatuh terhempas. Kejadian kamar lift jatuh bebas juga sudah diantisipasi dengan memasang rem otomatis. Rem ini akan bekerja ketika mendeteksi ada gerakan overspeed. Menjadikan pertanyaan besar ketika semua sistem keamanan berlapis ini ternyata tidak bekerja.

Sikap abai terhadap keamanan selama ini terlihat pada beberapa kasus. Sekitar dua dekade yang lalu sering terjadi tabrakan kereta api. Dari invetigasi jurnalis yang ikut naik di lokomotif, ternyata ada kebiasaan buruk dari masinis untuk tidak melakukan pengereman ketika di depan menjelang stasiun terdapat lampu merah. Ini bukan stasiun pemberhentian, hanya dilewati saja. Alasannya karena nanti beberapa meter menjelang stasiun lampu biasanya sudah berubah menjadi hijau. Tentu saja ini namanya berjudi dengan maut. Kalau lampu tidak hijau karena masih ada aktifitas langsir beberapa kereta api, maka kereta dengan kecepatan tinggi akan masuk jalur salah dan menabrak kereta yang sedang berhenti.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline