Lihat ke Halaman Asli

Y. Edward Horas S.

TERVERIFIKASI

Pendiri Cerpen Sastra Grup (cerpensastragrup.com)

Mendengar Itu Tidak Hanya Bermodal Kuping!

Diperbarui: 22 Desember 2021   18:15

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi mendengar, sumber: Shutterstock via Kompas

Pandai bicara sama bobotnya dengan pandai mendengar. Mendengarlah selama orang bicara dan bicaralah setelah selesai mendengar.

Sejauh pengamatan saya, banyak orang mengajar cara bicara di depan umum. Bagaimana menjelaskan sesuatu dengan baik. Bagaimana tampil menarik dan memikat peserta. Bagaimana menguasai panggung dan mampu mencairkan suasana.

Tentu, itu adalah pelajaran berharga. Kemungkinan terlatih dari kebiasaan bicara di depan seorang demi seorang dan seterusnya jadi berani di depan banyak orang.

Banyak yang ingin kata-katanya didengar. Jika berhasil memberi inspirasi, si pembicara senang. Dapat menjadi manfaat adalah tujuan akhirnya yang mulia.

Pada sisi lain, pembicara tidak ada guna jika tidak ada yang mendengar. Pada contoh kecil, dalam interaksi dengan orang di sekitar, ketika bicara kita selalu ingin didengar.

Mendengar itu tidak mudah

Akhir-akhir ini saya belajar mendengar. Ketika bercakap dengan teman, saya berusaha mendengar. Bukan sembarang mendengar yang hanya menyediakan kuping. Saya catat banyak yang dikorbankan:

mengalahkan ego

Menguasai pembicaraan sehingga terlihat pintar adalah keinginan sebagian orang. "Aku" yang selalu mendapat tempat dan kehormatan untuk bicara terus didambakan.

Secara langsung, "aku" sedang mengaktualisasikan diri. Menunjukkan kebisaan dalam keahlian bicara. Saat mendengar, "aku" sedang diredam. Kita mengendalikan diri untuk tidak menunjukkan keakuan.  

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline