Lihat ke Halaman Asli

Y. Edward Horas S.

TERVERIFIKASI

Pendiri Cerpen Sastra Grup (cerpensastragrup.com)

Mengais Remah-remah Rengginang di Dasar Kaleng Khong Guan

Diperbarui: 13 Mei 2021   12:42

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kue keju dan putri salju, sumber: dokpri

Apa kudapan kesukaan Anda selama Lebaran? Selain telah dikenyangkan dengan makanan berat layaknya opor ayam, rendang daging, ketupat Lebaran, sambal goreng hati, dan lainnya, bibir kita serasa belum lengkap jika belum menikmati camilan khas Lebaran.

Ada kue nastar, kue keju, putri salju, kacang-kacangan, dan sebagainya, termasuk rengginang. Masing-masing punya tekstur dan rasa yang berbeda, sehingga lidah kita ingin mengecap semuanya.

Makanan ini dapat menjadi teman yang setia menemani dan tidak membuat kantuk, selama silaturahmi berlangsung dan proses saling memaafkan terjalin hangat. Seolah-olah telah melekat menjadi budaya. Jika Lebaran, sebaiknya ada ini, ini, dan ini.

Kue keju dan putri salju, sumber: dokpri

Rengginang

Rengginang sendiri, sebagian dari kita pasti menyediakan. Penganan berbentuk kerupuk tebal yang terbuat dari beras ketan ini, jika digoreng kering dalam minyak panas, menjadi begitu kriuk saat pecah di dalam mulut. Sensasi kres-kresnya tidak tergantikan.

Agar tergoreng dengan mengembang sempurna, adonan rengginang sebaiknya dijemur di bawah sinar matahari yang panas, untuk menghilangkan kadar air dan membuatnya sekering mungkin. Kudapan ini cocok dimakan sendiri atau disantap bersama makanan berat.

Dalam menyajikannya, kita kebanyakan menggunakan kaleng, baik dari plastik maupun lapisan baja kuning, seperti kaleng Khong Guan. Kaleng Khong Guan yang begitu besar itu, jika isinya telah kosong, dapat digunakan sebagai alternatif tempat menyimpan.

Kaleng Khong Guan, sumber: dokpri

Dalam kaleng itu, ada rengginang yang masih bagus bentuknya. Ada pula yang sudah jelek, berbentuk remah-remah di dasar kaleng. Begitulah hidup kita, juga seperti itu.

Seperti tidak berharga

Remah-remah itu hancur berantakan. Wujudnya tidak jelas, jelek jika dibanding rengginang yang masih utuh. Kurang menarik dan tidak terlihat seketika, selepas membuka kaleng.

Keadaan kita pun begitu. Hancur berantakan karena dosa dan salah. Mereka berdua selalu menuding-nuding kita, menjerumuskan dan membuat seolah-olah -- sesekali memang benar, hidup tidak ada harganya. Sering kali pula kita kalah melawannya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline