Lihat ke Halaman Asli

Eyang Memet, “From Hejo to Ngejo”

Diperbarui: 3 Mei 2016   21:04

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Eyang Memet. * ft. hariyawan esthu

Pada masa silam,urang Sunda sangat perduli terhadap penataan ruang untuk kehidupan sehari-hari.Sayangnya, papagah tentang pemanfaatan lingkungan dari orang-orang Sunda masa silam tersebut perlahan tetapi pasti, sudah tidak dianggap lagi.Kini, pengelolaan tata ruang lokal dan usaha konservasi alam mandiri masyarakat semakin memudar. Papagah ini hanya dapat ditemukan pada beberapa kelompok masyarakat Sunda yang termasuk dalam masyarakat adat. Padahal orang Sunda berpandangan bahwa manusia harus memiliki pandangan hidup yang baik, dan harus senantiasa sadar bahwa dirinya hanyalah sebagian kecil dari alam semesta.

Dalam kaitan kembali ke jati diri Ki Sunda inilah, Memet Achmad Surachman –yang kerap disapa Eyang Memet--, dalam setiap organisasi lingkungan yang didirikan dan dikiprahinya, digagas semata-mata untuk menyadarkan kita, untuk berterima kasih pada alam yang telah banyak memberimanfaat pada umat manusia, dari dahulu hingga kini. Sepanjang zaman.

Orang Sunda itu dianjurkan agar siger tengah atau sineger tengah, yaitu tidak kekurangantetapi juga tidak berlebihan. Sama sekali bukan untuk kemewahan, melainkan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan demikian, tidak menguras atau memeras alam secara berlebihan, sehingga terjaga kelestariannya,” kata Eyang Memet.

Dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan alam serta menguatkan jati diri ke-Sundaan inilah, kemudian Eyang Memet menerapkan motto “From Hejo to Ngejo” dalam gerak langkah perjuangan bersama rekan-rekannya.

DALAM konteks pengelolaan hutan, masyarakat menerima manfaat jasa lingkungan ini secara gratis dari alam. Misalnya udara bersih yang dihasilkan oleh hutan, tersedianya sumber air bersih dari hutan, keindahan alam, dan kebaikan iklim bagi produktivitas pertanian. Semua ini didapatkan secara gratis oleh manusia dari alam, tanpa mengetahui siapa yang harus membayar dan melestarikannya.

Namun demikian, sebagai orang Sunda, Eyang Memet berkeyakinan bahwa orang Sunda menyadari bahwa lingkungan alam memberikan manfaat yang maksimal kepada manusia apabila dijaga kelestariannya, dirawat, serta dipelihara secara baik, dan digunakan hanya secukupnya.

“Kalau alam digunakan secara berlebihan, apalagi kalau tidak dirawat dan tidak dijaga kelestariannya, maka akan timbul malapetaka dan kesengsaraan. Banyak bukti untuk hal ini, bencana alam akibat ulah manusia terjadi di mana-mana,” ingat Eyang Memet saat kami mengobrol di salah satu saungnya, di Kampung Suraja, Blok Gunung Masigit, Desa Cibodas, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung, pada pagi hari, beberapa waktu lalu.

Tujuan konservasi tidak hanya memberikan perlindungan pada kenekaragaman hayati, tetapi pemanfaatannya bisa menyejahterakan masyarakat sekitarnya. Namun demikian, sudah sejak lama hal ini menjadi tema perdebatan antara elemen civil society penggiat lingkungan; kubu yang satu berada pada posisi mendahulukan konservasi dan kubu yang lain mendahulukan peningkatan ekonomi masyarakat.

Menurut Eyang Memet, tidak ada yang salah terhadap kedua kubu, namun justru menjadi salah ketika ada yang mengklaim dan keras mempertahankan argumentasi pemihakan tanpa logika rasional.

Hal yang perlu dipahami, kata Eyang Memet, kebutuhan untuk konservasi sebenarnya bukan saja kepentingan dari negara-negara Eropa, tetapi juga kebutuhan tidak langsung tetapi urgen bagi masyarakat lokal. Disisi lain, kebutuhan meningkatkan ekonomi masyarakat juga menjadi point penting bagi stabilitas kawasan hutan. Tanpa ekonomi yang sejahtera, bisa dipastikan kawasan hutan disekitar wilayah tinggal sedikit demi sedikit akan tergerus.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline