Lihat ke Halaman Asli

Hardiansyah Tambunan

Freelancer/Mahasiswa

Potensi Manfaat dan Nilai Ekonomi Objek Wisata Bukit Lawang

Diperbarui: 18 Mei 2022   11:31

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

GAMBAR 1. Objek Wisata Bukit Lawang (Dok. pribadi)

PENDAHULUAN

Sumber daya hutan (SDH) Indonesia menyediakan beragam manfaat yang dapat dirasakan pada tingkatan lokal, nasional, maupun global. Manfaat tersebut terdiri atas manfaat nyata yang dapat diukur (tangible) berupa hasil hutan kayu dan hasil hutan bukan kayu seperti rotan, bambu, damar, dan lain-lain, serta manfaat tidak terukur (intangible) berupa manfaat perlindungan lingkungan, rekreasi, wisata, keragaman genetik, dan lain-lain (Nurfatriani, 2006).

SDH mempunyai peran penting dalam kelangsungan hidup manusia. Pengelolaan terhadap SDH harus sangat bijaksana. Besarnya manfaat yang ada pada ekosistem hutan memberikan konsekuensi bagi ekosistem hutan itu sendiri. Dengan semakin tingginya tingkat eksploitasi yang berakhir pada degradasi yang cukup parah (Suzana et al., 2011). Nilai ekonomi ekosistem hutan baru disadari ketika semakin langka keberadaannya dan kesejahteraan manusia menjadi terganggu. Konsumsi beberapa manfaat ekosistem hutan seperti hidrologis, biologis, dan estetika terjadi tidak melalui mekanisme pasar. Selain itu, manfaat hutan dinikmati sendiri oleh masyarakat secara tradisional, tidak dijual. Pemanfaatan tersebut secara ekonomi merupakan pemenuhan sebagian kebutuhan hidup. Produk barang dan jasa hutan yang dimaksud dinikmati tetapi tidak dipasarkan (non marketable) (Munandar, 2016).

Di sisi lain, penerapan pengelolaan hutan berbasis ekosistem memerlukan pengembangan ilmu pengetahuan yang ada kaitannya seperti ekologi, ekonomi, sosial, kelembagaan, dan teknologi, agar prinsip-prinsip pengelolaan ekosistem dapat dioperasionalisasikan di lapangan. Salah satu informasi penting yang diperlukan dalam pengambilan keputusan pengelolaan hutan adalah informasi tentang nilai ekonomi ekosistem hutan (Bahruni et al., 2007).

Penilaian (valuasi) ekonomi ekosistem hutan adalah upaya untuk memberi nilai kuantitatif terhadap barang (good) dan jasa (service) yang dihasilkan oleh hutan, baik atas dasar nilai pasar (market value) maupun nilai non pasar (non market value). Adapun nilai ekonomi (economic value) secara umum didefinisikan sebagai pengukur jumlah maksimum seseorang ingin mengorbankan barang dan jasa untuk memperoleh barang dan jasa lainnya. Penilaian ekonomi ekonomi pemanfaatan hutan merupakan alat ekonomi yang menggunakan teknik atau metode tertentu untuk mengestimasi nilai uang dari barang dan jasa yang diberikan oleh ekosistem hutan (Rusmiyati dan Sriekaningsih, 2016).

Penilaian peranan ekosistem hutan termasuk kawasan konservasi bagi kesejahteraan manusia merupakan aktivitas yang sangat kompleks. Nilai suatu kawasan konservasi sangat tergantung pada aturan-aturan manajemen yang berlaku. Dengan kata lain nilai tersebut ditentukan tidak hanya oleh faktor-faktor biologi dan ekonomi tetapi juga oleh kelembagaan yang dibangun untuk mengelola sumber daya kawasan konservasi tersebut. Secara konseptual, nilai total suatu kawasan konservasi terdiri atas nilai guna langsung (direct use values) yang dapat dihitung dengan menggunakan metode-metode perhitungan konvensional, nilai guna tidak langsung (indirect use values), nilai pilihan (option values), dan nilai manfaat non-konsumtif (non-use values) (Subardi, 2009).

Bukit Lawang merupakan bagian dari kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan dunia. Berdasarkan RTRW Kabupaten Langkat tahun 2013-2033 Bukit Lawang disebut sebagai tujuan wisata prioritas serta kawasan konservasi alam yang ada di kabupaten tersebut. Kelestarian dari ekosistem TNGL sangat berpengaruh terhadap nilai ekonomi dari kawasan Bukit Lawang (Ginting dan Veronica, 2019). Berdasarkan hal tersebut, melalui tulisan ini, perlu dilakukan analisis mengenai potensi manfaat dan nilai ekonomi dari objek wisata Bukit Lawang di TNGL. Tujuan dari penyusunan tulisan ini adalah untuk mengetahui nilai ekonomi dan pemanfaatannya serta mengidentifikasi potensi manfaat ekonomi objek wisata Bukit Lawang di TNGL. Tulisan ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai informasi dan menambah khazanah pengetahuan mengenai penilaian (valuasi) ekonomi objek wisata Bukit Lawang di TNGL.

OBJEK WISATA BUKIT LAWANG

Bukit Lawang secara harfiah berarti “pintu ke bukit”, merupakan salah satu kawasan ekowisata di Sumatera Utara, terletak di Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat. Bukit Lawang terletak di dalam Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Letak geografis Bukit Lawang berada pada 255’-4°05’ LU dan 98°30’BT. Untuk mencapai Bukit Lawang, jarak yang harus ditempuh 11 km dari Kecamatan Bahorok. Sedangkan dari Medan menuju Bukit Lawang membutuhkan waktu sekitar ± 3 jam (Claudia, 2018).Bukit Lawang tergolong dalam lingkup TNGL yang merupakan daerah konservasi terhadap orangutan. Wisata alam Bukit Lawang menjadi tujuan wisata andalan di TNGL dikarenakan memiliki daya tarik satwa langka Orangutan Sumatra semi liar dan panorama hutan hujan tropis. Bukit Lawang mengelola kawasan seluas 12.401 ha, di mana 200 ha di antaranya didedikasikan sebagai zona pemanfaatan. Bukit Lawang terkenal bagi pengunjung domestik dan internasional sebagai tempat melihat orangutan, tracking di hutan, tubing, berenang, jelajah gua, dan kuliner merupakan bagian aktivitas wisata (YOSL/OIC-PILI, 2018). Pada dasarnya, kawasan Bukit Lawang terbagi atas 3 kawasan, yaitu kawasan perkebunan, kawasan konservasi TNGL, dan kawasan yang dapat dikelola oleh masyarakat seperti yang disajikan pada Gambar 2. 

GAMBAR 2. Peta Tata Guna Lahan Bukit Lawang (Ginting dan Veronica, 2018)

Kawasan objek wisata Bukit Lawang memiliki berbagai sarana wisata yang dapat dimanfaatkan oleh pengunjung, meliputi:

Sarana pokok yang merupakan sarana utama/fasilitas utama, yang terdapat di kawasan wisata antara lain:

  • Tempat penginapan, mulai dari hotel dan motel. Beberapa penginapan yang bisa ditemukan antara lain Bukit Lawang Cottege dan Rindu Alam Hotel. Kebanyakan penginapan memakai prinsip eco-lodging, yang berarti tempat menginap dibuat agar menyatu dengan alam, misalnya tempat tidur yang dibuat menggantung. Letaknya pun di beranda sehingga saat beristirahat bisa langsung melihat asrinya kawasan Bukit Lawang. Harga penginapan sangat bervariasi, mulai dari Rp100.000 hingga Rp500.000.
  • Tempat restauran dan rumah makan. Di sekitar kawasan wisata dapat menikmati beberapa restauran dan rumah makan seperti wisma leuser sibayak restaurant, rosa restaurant, lawang inn restaurant, green hill, dan lain-lain dengan berbagai menu dan harga yang bersaing.
  • Tempat yang mengatur perjalanan dan menyelenggarakan tour, seperti kantor informasi pariwisata, biro perjalanan, dan jasa transportasi (bus pariwisata, taksi, dan rental mobil).

Sarana pelengkap, merupakan fasilitas-fasilitas yang melengkapi sarana pokok, sehingga fungsinya dapat membuat wisatawan merasa senang tinggal di tempat yang dikunjunginya, sarana pelengkap yang terdapat di kawasan wisata antara lain:

  • Penyewaan aktivitas wisata air seperti ban, perahu dan dayung, dan pakaian renang.
  • Area perkemahan. Terdapat area perkemahan yang dapat dinikmati wisatawan yang berkunjung dan menikmati suasana alam.
  • Sarana ibadah. Terdapat 5 masjid di Bukit Lawang yang jaraknya berjauhan, serta satu unit mushola. Masyarakat yang beragama kristen yang ingin melakukan peribadatan mingguan, dapat dilakukan di gereja adat yang terdapat di Gotong royong. Gereja GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) Runggun Gotong royong 1 unit, gereja tersebut merupakan gereja adat yang menggunakan bahasa daerah karo.
  • Foto studio. Bagi wisatawan yang ingin mengabadikan momen-momen indah dapat memanfaatkan jasa foto studio yang tersedia dilokasi wisata.
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline