Lihat ke Halaman Asli

Apresiasi Inggris Negara Pertama yang Melegalkan Vape sebagai Produk Medis

Diperbarui: 11 November 2021   17:24

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber gambar: cleveland.com

Isu mengenai produk rokok elektronik, atau yang dikenal juga dengan nama vape, saat ini masih menjadi kontroversi. Perdebatan mengenai isu terkait vape umumnya muncul pada aspek kesehatan, terlebih lagi, dari tahun ke tahun, jumlah pengguna vape di seluruh dunia kian meningkat.

Bagi sebagian kalangan, vape atau rokok elektronik merupakan produk yang sangat berbahaya, dan tidak jauh berbeda dengan rokok konvensional yang dibakar. Untuk itu, akan sangat berbahaya pula bila produk ini dapat dijual bebas ke masyarakat seperti produk-produk konsumen lainnya.

Mereka yang memiliki pandangan bahwa vape atau rokok elektronik sebagai produk yang sangat berbahaya umumnya akan meengadvokasi berbagai kebijakan yang bertujuan untuk mencegah seseorang mengkonsumsi produk tersebut. 

Berbagai kebijakan ini ada dalam berbagai bentuk, mulai dari kebijakan untuk mengenakan cukai atau pajak yang tinggi, untuk mengurangi insentif seseorang mengkonsumsi vape, hingga kebijakan pelarangan total.

Sementara itu, di sisi lain tidak sedikit pula pihak-pihak yag memiliki pandnagan bahwa vape atau rokok elektronik merupakan produk yang tidak lebih berbahaya daripada rokok konvensional yang dibakar. Oleh karena itu, vape atau rokok elektronik memiliki potensi untuk membantu para perokok untuk mengurangi kebiasaan merokoknya yang sangat berbahaya bagi kesehatan.

Mereka yang memiliki pandangan tersebut umumnya justru menentang keras berbagai kebijakan yang ditujukan agar seseorang semakin sulit untuk mendapatkan akses terhadap produk-produk vape. 

Mereka melihat kebijakan tersebut justru akan membawa dampak yang kontra produktif, karena bukan hanya akan semakin menyulitkan para perokok untuk mendapatkan produk alternatif yang dapat membantu mereka berhenti merokok, namun juga berpotensi besar akan semakin membuka praktik pasar gelap vape yang sanget berbahaya bagi konsumen.

Di Indonesia sendiri, tidak sedikit pihak-pihak yang memiliki pandangan pertama terkait dengan produk-produk vape. Mereka memiliki pandangan bahwa vape atau rokok elektronik adalah produk yang sangat berbahaya dan harus dilarang oleh pemerintah. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) misalnya, menganjurkan agar produk-produk vape dilarang di Indonesia (cnnindonesia.com, 24/9/2019).

Tetapi ada pula negara lain yang memiliki pendekatan yang berbeda terkait dengan produk-produk vape atau rokok elektronik. Salah satu dari negara tersebut adalah Britania Raya, yang bukan hanya tidak melarang vape, tetapi justru menjadikan produk tersebut sebagai alternatif yang dapat membantu seseorang untuk berhenti merokok.

Kebijakan yang diambil oleh Inggris ini memang tergolong unik. Ketika berbagai negara di dunia berupaya untuk memberlakukan kebijakan yang membatasi hingga melarang vape, mulai dari Amerika Serikat hingga Australia, Inggris justru memberlakukan kebijakan yang berbeda 180 derajat dari kebijakan yang diambil oleh negara-negara lainnya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline