Lihat ke Halaman Asli

Guıɖo Arısso

TERVERIFIKASI

ᗰᗩᖇᕼᗩEᑎ

NTT (Nusa Tandus Terlama)

Diperbarui: 6 September 2021   10:03

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi tanah tandus akibat musim kemarau. (SHUTTERSTOCK/R_Tee/via Kompas.com)

Jika fatamorgana yang diidap dari tempurung ruang hidup rakyat Amerika adalah bermimpi egalite tanpa rasisme, orang NTT justru berharap agar musim kemarau dan ancaman kekeringan tidak berkonspirasi mencekik leher.

Pada faktanya memang kemarau dan ancaman kekeringan selalu menjadi problem serius di NTT. Menjadi problem karena ada jarak yang sangat jomplang antara harapan dengan kenyataan.

Namun, bukan orang NTT namanya bila tidak menjadikan 'problematika' sebagai medium pembelajaran. Problem bukanlah pemicu paranoia, justru sebaliknya, hidup bersahabat dengan kekeringan.

Kekeringan akut yang terjadi setiap tahun di sebagian besar wilayah NTT, pada dasarnya hadir sebagai sebuah interupsi (untuk menyebut peringatan) agar mereka bersama-sama mencari-cari cara untuk ke luar dari lingkaran setan ancaman kekeringan.

Dan terbukti, jawaban rakyat NTT yang paling menonjol dalam menyikapi situasi batas itu ialah lewat pembuatan embung dan sumur secara mandiri. Dan baru-baru ini sudah ada 3 bendungan yang dibangun lewat program inisiatif pemerintah pusat.

Tentu saja ketika armada swasembada air itu sudah tersedia, maka langkah selanjutnya adalah bagaimana usaha konkret dari segenap elemen masyarakat dalam memanajemen pengelolaan air agar efisien dan berkelanjutan.

Tujuannya survive. Apalagi hal satu itu bersentuhan langsung dengan hajat hidup banyak orang.

NTT (Nusa Tandus Terlama)

Berbeda dengan tulisan sebelumnya, tulisan ini lebih menyoroti problem eksternal di balik kekeringan akut yang sudah menjadi penyakit menahun di reksa wilayah NTT.

Dan memang, saya kira, julukan NTT sebagai Nusa Tandus Terlama sangat relevan mengingat wilayah satu ini rawan kemarau dan/atau curah hujan rendah. Berbeda dengan wilayah lain di Indonesia yang secara geografi fisik (baca: cuaca dan iklim) berbeda.

Saya kira, picu yang menyebabkan terjadinya kemarau panjang di sini tidak hadir sebagai motif tunggal. Melainkan ada faktor lain yang disebabkan juga oleh Angin Muson Timur yang bertiup dari benua Australia ke benua Asia. [Melansir dari Kompas.com]

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline