Lihat ke Halaman Asli

Selain Jokowi, Ada “Presiden” Lain di Tanah Papua

Diperbarui: 18 Juni 2015   05:26

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

1406095407673651003

[caption id="attachment_316500" align="aligncenter" width="474" caption="Presiden terpilih Jokowi ketika berkampanye di Jayapura (foto: tempo.co))"][/caption]

Ada dua kejadian menarik di Tanah Papua dalam dua hari terakhir. Pertama tentu saja terkait dengan kemenangan Jokowi-Jk sebagai Presiden terpilih bangsa Indonesia, dimana mayoritas terbesar warga di Provinsi Papua (hampir 80 persen) mendukung paket nomor dua ini. Hasil rekapitulasi KPU menunjukkan Jokowi-JK memperoleh 2.026.735 suara di Prov. Papua, sedangkan Prabowo-Hatta memperoleh suara 769.132.

Kemenangan Jokowi-JK tentu saja disambut luar biasa oleh jutaan pemilihnya, termasuk warga Papua. Apalagi ada hal yang dinilai monumental yang telah dilakukan Jokowi dalam proses pemenangannya, yaitu pada hari pertama kampanyenya sebagai capres, Jokowi langsung blusukan di pasar rakyat Yotefa, Jayapura.

Menetapkan Papua sebagai tempat kampanye hari pertama Jokowi itu adalah simbol dari tekadnya untuk memprioritaskan pembangunan Papua jika terpilih menjadi Presiden. “Itulah alasan kenapa kampanye pertama saya ke Papua. Hal tersebut adalah simbol bahwa saya akan mengembangkan wilayah Timur Indonesia,” ungkapnya. link terkait

‘Presiden’ Forkorus

Peristiwa kedua terjadi 21 Juli 2014 atau sehari sebelum KPU mengumumkan kemenangan Jokowi-JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih. Yaitu bebasnya Forkorus Yaboisembut dari penjara Abepura. Forkorus dihukum tiga tahun penjara dalam kapasitasnya sebagai “presiden” NRFPB (negara republik federasi papua barat) yang dideklarasikan bersama empat rekannya (Selpius Bobi, Edison Waromi, Dominikus Sorabut, dan Agus Kraar) pada 19 Oktober 2011 di lapangan Padang Bulan, Abepura.

14060955412125507966



Pembebasan “Presiden” dan para pentolan NRFPB itu disambut para pendukungnya di depan LP Abepura dengan tarian adat. Sebelum meninggalkan LP, Forkorus sempat membacakan pidato politiknya dan konferensi pers. Forkorus mengatakan bahwa bukan waktunya lagi untuk mengambil tindakan yang saling menyerang dan menyakiti antara NKRI dan NRFPB. “Kita harus mulai membangun hubungan persahabatan ke masa depan sebagai dua bangsa atau negara yang bermartabat”, katanya lagi. link terkait

Dengan bebasnya Forkorus dkk,berarti di Papua saat ini adaa tokoh lain yang mengakui dirinya sebagai “presiden” selain Jokowi. Bedanya, Jokowi melalui Pemilu yang melibatkan seluruh masyarakat Papua, sedangkan Forkorus mendeklarasikan dirinya sendiri (sebagai ‘presiden’ negara papua barat). Ia bahkan sudah sesumbar akan membangun hubungan persahabatan sebagai dua negara yang bermartabat.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline