Lihat ke Halaman Asli

Bahaya Kanker Menghantui Penerima Transplantasi Organ

Diperbarui: 22 September 2017   17:31

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

Dunia kedokteran tentu selalu mengalami perkembangan dalam mencari metode pengobatan. Salah satu perkembangan terbesar adalah metode transplantasi organ. Transplantasi organ merupakan awal kesuksesan besar dibidang medis. Metode transplantasi sendiri sering kali menjadi pilihan terakhir yang paling tepat untuk mengobati suatu penyakit. Ketika banyak pengobatan telah dilakukan, atau kegagalan organ terjadi, banyak dokter akan menyarankan metode transplantasi organ.

Dr Eric Engels, peneliti senior bagian infeksi dan epidemiologi dari Divisi Epidemiologi Kanker dan Genetika di US National Cancer Institute di Rockville mengatakan "Masyarakat perlu memahami bahwa transplantasi adalah salah satu kisah sukses terbesar dalam dunia kedokteran. Cara ini adalah perawatan yang sangat efektif untuk pasien dengan penyakit organ yang parah,"

Transplantasi organ sendiri merupakan suatu metode pengobatan dengan cara memindahkan sebagian atau seluruh organ dari satu tubuh ketubuh lain (dari tubuh pendonor ke tubuh penerima) atau dari suatu tempat ke tempat lain dalam tubuh yang sama. Transplantasi organ berfungsi untuk menggantikan organ lama yang telah rusak dengan organ baru yang lebih baik.

Dalam melakukan transplantasi organ perlu adanya banyak pertimbangan, terutama dari sisi resiko yang akan dihadapi. Baik resiko bagi pendonor maupun pihak yang menerima donor. Untuk meminimalisir resiko yang terjadi, dilakukan serangkaian tes kesehatan dan kecocokan serta prosedur yang ketat. Setelah dilakukan transplantasi, penerima donor harus mengkonsumsi obat imunosupresif atau obat anti-penolakan. Hal ini bertujuan untuk mencegah sistem kekebalan tubuh menyerang organ baru yang dianggap benda asing.

Serangkaian prosedur ini tentunya diharapkan untuk menghidari resiko-resiko yang terjadi. Namun nyatanya resiko kanker masih menghantui para penerima donor. Apakah hal ini benar adanya ? dan bagaimana hal ini bisa terjadi ? Sebelum membahas tentang hubungan transplantasi organ dan salah satu efek sampingnya yaitu kanker, ada baiknya kita mengetahui dahulu apa itu kanker.

Kanker adalah penyakit akibat pertumbuhan sel yang tidak normal sehingga sel tumbuh tidak terkendali dan menyerang jaringan tubuh disekitarnya. Sel -- sel dalam tubuh selalu mengalami pembaharuan, dimana sel lama yang telah rusak akan digantikan dengan sel - sel baru. Di dalam setiap sel selalu memiliki materi genetic (DNA). Ketika DNA mengalami kerusakan, sel normal akan mempebaharuinya dengan cara meregenerasi sel. Namun proses ini berbeda pada sel kanker. Sel kanker yang mengandung DNA rusak tidak digantikan oleh sel baru yang baik. Melainkan sel tetap memproduksi sel baru dengan DNA yang rusak.

Setelah memahami tentang bagaimana penyakit kanker bisa terjadi. Mari kita membahas tentang bahaya kanker setelah mengalami transplantasi organ. Dalam setiap metode pengobatan tentunya memiliki keuntungan dan resiko yang berbeda-beda. Salah satu resiko terbesar ketika kita memilih metode transplantasi organ adalah kanker.  Dalam suatu studi dikatakan bahwa, penerima organ transplantasi beresiko dua kali lipat mengidap kanker dibanding mereka yang tidak menerima transplantasi. Selain itu mereka berkemungkinan mengidap 32 jenis kanker yang berbeda.

Dr. Eric Engels dan timnya mengkaji data di Amerika Serikat sebanyak hampir 176.000 transplantasi organ padat yang dilakukan pada tahun 1987 hingga 2008. Para peneliti menemukan bahwa angka kejadian kanker 2,1 kali lebih tinggi dalam populasi non transplantasi. Ia menjelaskan "Jadi, jika tujuh dari setiap 1.000 orang populasi umum diduga akan berisiko terkena kanker, kami mengamati sekitar dua kalinya, sekitar 13 atau 14 di antara 1.000 pasien transplantasi yang diikuti selama satu tahun berisiko terkena kanker,"

Risiko lainnya adalah penyakit limfoma non-Hodgkin yang meningkat lebih dari tujuh kali lipat. Selain itu tingkat kanker paru-paru dan hati juga meningkat secara signifikan. Berdasarkan penelitian ini, didapati bahwa pada semua penerima transplantasi ginjal insiden kanker ginjal meningkat hampir lima kali lipat.

Hal ini kemungkinan karena adanya penyakit  awal yang mendasari pasien membutuhkan ginjal baru dan kemungkinan imunosupresan yang berperan pada semua pasien transplantasi. Engels juga  mengatakan bahwa ini mungkin disebabkan karena kanker telah ada sebelumnya. Sebagai contoh, untuk mengobati beberapa jenis kanker hati adalah metode transplantasi hati, mungkin beberapa sel kanker masih bertahan dalam proses transplantasi.

Penelitian lain juga mengatakan bahwa anak-anak yang menerima transplantasi organ, beresiko mengalami pengembangan kanker 200 kali lebih tinggi dari pada populasi umum. Studi lain dari Institut Kanker Nasional A.S. menemukan bahwa risiko kanker pada anak-anak yang menerima transplantasi organ mencapai 19 kali lebih tinggi daripada populasi umum.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline