Lihat ke Halaman Asli

Kenali Perbedaan Growth Mindset dan Fixed Mindset untuk Meningkatkan Kesuksesan

Diperbarui: 17 Juni 2021   18:00

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

https://www.finansialku.com/

Sebelum membahas inti dari topik, pasti kita pernah berhasil meraih sesuatu atau memiliki prestasi yang bisa dibanggakan. Lalu yang mana yang akan kita percaya? Kita percaya bahwa hasil-hasil yang kita raih itu karena memang pintar dan berbakat atau kita percaya bahwa keberhasilan itu karena kerja keras, latihan, dan semangat kita untuk berkembang.

Jika misalnya kita memilih opsi yang pertama biasanya adalah tipe orang yang takut ambil risiko dan kita percaya kemampuannya sudah ada sejak lahir dan tidak akan kemana-mana lagi. Sebaliknya jika kita tipe yang kedua, maka akan lebih berani mengeksplorasi karena kita percaya dengan mengerjakan sebuah hal baru kita akan belajar hal baru juga dan oleh karena itu semua hal yang kita lakukan di dunia ini adalah hasil dari belajar dan latihan.

Namun, apakah benar seperti itu? Untuk mengetahui perbedaan keduanya kita harus tahu sebuah konsep yang dinamakan growth mindset dan lawannya yaitu fixed mindset. Jadi apa yang dimaksud dengan growth mindset dan fixed mindset? Sederhananya adalah bagaimana caranya memandang kemampuan kita. Kalau kita memiliki growth mindset, kita akan melihat kemampuan dalam bidang apa saja itu masih bisa berubah dan dikembangkan, berkembangnya bisa jadi melalui kerja keras, strategi yang baik, belajar, latihan, atau melalui berbagai hal. Dan sementara itu kalau kita memiliki fixed mindset maka sebaliknya, kita akan cenderung beranggapan bahwa kemampuan itu hasil bawaan dari lahir dan sudah tidak bisa berubah. Hal ini juga berlaku di cara kita melihat kesuksesan orang lain.

Fixed mindset mendorong kita untuk melihat kesuksesan orang lain sebagai hasil dari bakat, hasil dari kejeniusan mereka saja. Misalnya ketika kita memikirkan Einstein, dan kita berpikir bahwa dia bisa menciptakan apa yang ia ciptakan hanya karena dia pintar. Jadi kita seakan-akan mengabaikan fakta bahwa ada faktor bawaan, padahal juga ada kerja keras dibalik apa yang mereka raih.

Menurut Carol Dweck seorang psikolog sekaligus peneliti mindset, orang dengan growth mindset bisa meraih lebih banyak hal dibandingkan orang dengan fixed mindset. Karena orang dengan growth mindset tidak terlalu khawatir soal "tidak terlihat pintar" dan sebagian besar energinya digunakan untuk belajar. Orang dengan growth mindset memiliki gengsi yang rendah, dan mengadopsi growth mindset berarti menghargai proses. Tetapi negatifnya, biasanya hal ini di salah artikan seolah-olah meremehkan usaha. Padahal menurut Carol Dweck, growth mindset tetap menghargai hasil atau produk dari usaha kita.

Growth mindset ini tidak hanya sekedar usaha tetapi juga usaha yang sudah diperhitungkan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Ketika berusaha kita bisa bertanya dengan orang yang expert, bisa belajar dari buku, bisa belajar dari internet, kita bisa mencoba strategi baru dan intinya dua hal tersebut menjadi penting.

Biasanya orang dengan growth mindset memiliki ciri-ciri, yang pertama kita menganggap kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar. Yang kedua ketika dikritik, kita tidak menganggap itu sebagai serangan, melainkan sarana untuk memperbaiki diri. Yang ketiga kita suka mengerjakan pekerjaan yang lebih sulit dibandingkan yang biasanya dikerjakan. Yang keempat saat berhadapan dengan tantangan, kita biasanya melihat tantangan sebagai kesempatan untuk bereksperimen mencari solusi. Yang kelima tidak terfokus hanya pada hasil atau hanya pada proses tapi juga pada kemajuan-kemajuan kecil yang kita buat selama proses mencapai hasil. Yang terakhir adalah bisa memecahkan masalah secara kreatif.

Mungkin kita pernah mengalami saat berhadapan dengan hambatan untuk menuju tujuan kita apapun itu, biasanya ada keinginan untuk mundur saja. Nah kalau misalnya kita bisa mengadopsi growth mindset kita bisa tetap termotivasi saat berhadapan dengan hambatan ini.

Saat hambatan tersebut membuat kita gagal, sebaiknya tetap memilliki growth mindset karena mindset ini mendorong kita lebih tahan terhadap stres menghadapi kegagalan. Ada sebuah penelitian di Cina dia menunjukkan bahwa growth mindset ini memiliki pengaruh positif terhadap resiliensi. Resiliensi adalah kemampuan orang untuk bangkit kembali setelah kegagalan.  Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa growth mindset itu sangat penting.

Lalu bagaimana caranya supaya kita bisa memiliki growth mindset? Cara yang pertama dimulai dari pengetahuan kita terhadap diri, kita harus tahu apa yang harus diperbaiki di dalam diri kita, kita juga harus mengenali kelemahan yang kita miliki. Bagaimana caranya supaya kita bisa cepat mengenali kelemahan kita? Gunakan feedback di pekerjaan misalnya meminta untuk mengobrol dengan atasan, atau meminta mengobrol dengan keluarga, kira-kira kelemahan kita apa. Bisa juga lewat refleksi diri.

Dan yang penting adalah mencari feedback dari orang yang tepat dan feedback yang kita dapat tidak membuat down. Biasanya orang-orang yang seperti ini adalah orang yang memiliki dua hal, mereka memiliki kepedulian sama diri kita dan mereka memiliki kemampuan yang memang kita inginkan. Hal tersebut biasanya terdapat pada seorang yang profesional. Seorang profesional yang memang terbiasa membimbing orang lain untuk mengenali diri, ini sangat membantu kita agar bisa lebih objektif dalam melihat kekurangan yang ada pada diri kita.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline