Lihat ke Halaman Asli

Rita Mf Jannah

Pelaku Pasar Modal, Pengamat Pendidikan, Jurnalis, Blogger, Writer, Owner International Magazine

Tak Semua Pria Bule Sontoloyo

Diperbarui: 25 Juli 2021   15:20

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Illustrasi pria bule (pic: bp-guide.in

Kenal  dengan bule, siapa sih yang tidak senang? Sudah ganteng, ramah pula. Tapi kenapa bisa kenal, hal itu yang sering dipertanyakan banyak orang

Cerita ini berawal dari perkenalanku dengan pria tampan warga negara asing (WNA)  Irlandia yang kukenal saat penerbanganku ke New Zealand. Bukan suatu hal kebetulan bila kami tiba-tiba berada pada penerbangan yang sama, sebab saat itu kami dipertemukan oleh sebuah agen travelling karena sama-sama doyan melancong.

Setelah jenuh dengan pekerjaan di belakang meja membantu orangtuaku menangani perusahaan, adalah hal melegakan bila bisa membuang kejenuhan dengan menikmati keindahan belahan dunia yang berbeda.

Entah mengapa hari itu kami bisa sama-sama memilih business class, sebab biasanya travelling langgananku menawarkan first class, atau bila sudah jenuh dengan kesendirian, maka economy class menjadi tawaran pelepas rasa bosan.

Lega bisa mengistirahatkan tengkuk yang telah pegal-pegal ketika aku merasa ada yang mengamatiku sedari tadi, kebetulan aku belum memasang penutup pembatas sebagaimana kebiasaanku agar tak terganggu privasiku. Saat aku mengarahkan pandanganku ke arah kanan tempat dudukku, senyuman manis pria Amerika itu mengembang dengan sempurna. 

Aku tak pernah serius menanggapi keramahan seorang pria, bagiku biasa saja tanpa ada rasa suka, sebab bisa saja seorang pria bersikap manis seperti itu karena ada sesuatu yang disimpan di dalam hatinya, ada niat terselubung, atau bisa juga memang benar-benar ramah. 

Apalagi ini pria ras kaukasoid, yang pastinya terbiasa dengan kehidupan bebas semaunya, tak seperti pria ras melanesoid atau mongoloid yang lebih teguh memegang adat dan tradisi.

Setelah membalas senyuman yang kurasa basa-basi itu, aku segera memasang tutup pembatas antara tempat dudukku dengan tempat duduknya. Hingga beberapa saat kemudian aku tenggelam dalam duniaku sendiri, mendengar musik sambil menulis sesuatu di smartphoneku.

Namun aku tak menyangka setelah tatapan mata yang singkat itu, dia terus berusaha berkenalan denganku, bahkan saat tiba di tempat-tempat pelepas kejenuhan, seperti saat bertemu suku Maori, ataupun saat terbang di atas pegunungan salju bersama helikopter, dia berusaha mendekati. Memang dia berhasil membuat kami berkenalan, tapi aku tetap menjaga jarak.

Tak disangka sikap acuh dan cuekku justru membuatnya makin menggila, sebaliknya aku makin menjauhinya, sebab dalam pandanganku pria bule itu gombal, playboy, penyuka kebebasan, dan tak setia. Namun semua anggapan itu musnah berkat kegigihannya, hingga kamipun menjadi sepasang kekasih dan sempat bertunangan cukup lama.

Entah kenapa aku memutuskan pertunangan itu, padahal telah berjalan dua tahun, yang pasti keteguhan kami memegang keyakinan agama masing-masing membuat kami memutuskan berpisah. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline