Lihat ke Halaman Asli

Pokok Persoalan Estetika

Diperbarui: 25 Juni 2015   06:07

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Kajian mengenai keindahan, sebenarnya telah didokumentasikan dari jaman antik hingga sekarang. Pada jaman antik, keindahan dalam arsitektur dihargai lebih tinggi dibandingkan dengan keindahan obyek-obyek lainnya, akan tetapi secara mendasar tingkat keindahan pada aneka objek itu sama penting.
Ketika peradaban Mesir menghasilkan banyak objek yang kita sebut hari ini sebagai indah, kata keindahan secara nyata tidak pernah hadir pada tulisan-tulisan saat itu.
Di Mesir, ahli bangunan dan pematung (seniman) menggunakan teori proporsi yang berkaitan dengan rumus-rumus matematika untuk mencapai keindahan, sebagai dasar untuk mengkonstruksikan sistem proporsi seperti yang kemudian digunakan secara luas.
Pada abad pertengahan, penelitian tentang keindahan umumnya diklasifikasikan sebagai cabang dari teologi. Hal ini dikarenakan adanya pendapat bahwa keindahan adalah atribut dari Tuhan. Penulis yang saya kira patut dicatat adalah Augustinus (354-430). Ia mengatakan bahwa keindahan itu berdasarkan atas kesatuan dan keberaturan yang mengimbangi kompleksitas. Masing-masing cara yang mengatur itu adalah dengan rhythm, simetri atau proporsi-proporsi sederhana (perbandingan ukuran yang indah dilihat).
Salah satu ungkapan yang mendasari ungkapan manusia adalah estetika. Dalam commen sense, estetika menyatakan diri sebagai cabang dari filsafat sebelum menjadi cabang ilmu pengetahuan tersendiri. Adapun pokok-pokok persoalan estetika atau persoalan-persoalan problematika seni, ada empat persoalan, antara lain:
1. Nilai Estetika (Aesthetic Value)
Nilai adalah ukuran derajat tinggi-rendah atau kadar yang dapat diperhatikan, diteliti atau dihayati dalam berbagai objek yang bersifat fisik maupun abstrak. Nilai seni dan nilai estetis sangat sulit dibedakan dan dipisahkan, karena keduanya menyangkut psikologi seni dan filsafat seni, dan ada di dalam "dunia" yang sama yakni di dalam karya seni.
Menurut Immanuel Kant (seorang penggagas aliran kritisisme dalam tradisi filsafat) mengatakan bahwa nilai estetis terbagi menjadi dua, yaitu: pertama, nilai estetis atau nilai murni. Oleh karena nilainya murni, maka bila ada keindahan, dikatakan keindahan murni. Keindahan nilai estetis murni ini terdapat pada garis, bentuk, warna dalam seni rupa. Gerak, tempo, irama dalam seni tari. Suara, metrum, irama dalam seni musik. Dialog, gerak dalam seni drama. Kedua, nilai ekstra estetis atau nilai tambahan. Nilai ekstra estetis (nilai luar estetis) yang merupakan nilai tambahan terdapat pada bentuk-bentuk manusia, alam, dan binatang. Sedangkan nilai seni terdiri dari: nilai intrinsik dan nilai ekstrinsik, nilai musikal, nilai makna.

2. Pengalaman Estetis (Aesthetic Experience)

Dalam menikmati karya seni, ada dua kategori, yaitu: pengalaman artistik dan pengalaman estetik. Pengalaman artistik adalah pengalaman seni yang terjadi dalam proses penciptaan karya seni. Pengalaman ini dirasakan oleh seniman atau pencipta seni pada saat melakukan aktifitas artistik. Sedangkan pengalaman estetik adalah pengalaman yang dirasakan oleh penikmat terhadap karya estetik (keindahan). Konteksnya bisa ditujukan untuk penikmat karya seni dan keindahan alam.

Pengalaman estetik terhadap benda seni dan alam adalah dua pengalaman yang berbeda tanggapan estetiknya. Kant dan beberapa filsuf lain menandaskan bahwa pengalaman estetik bersifat tanpa pamrih, manusia tidak mencari keuntungan, tidak terdorong pertimbangan praktis.

Pengalaman estetik terhadap alam dan karya seni merupakan dua pengalaman yang berbeda tanggapan estetiknya, karena keindahan alam dan karya seni memiliki karakteristik yang tidak sama.

Pengalaman religius dalam beberapa gejala menampakkan diri sebagai (mirip dengan) pengalaman estetis, tetapi terdapat perbedaan yang terletak pada suatu dorongan atau dinamisme yang termuat dalam pengalaman religius yaitu ke arah yang transenden. (lihat Mudji Sutrisno & Crist Verhaak, Estetika: Filsafat Keindahan, Kanisius, Yogyakarta, 1993).

3. Perilaku Orang yang Mencipta

Seniman berusaha mengkomunikasikan idenya lewat benda-benda seni kepada publik. Publik yang menikmati dan menilai karya seni tersebut akan memberikan nilai-nilai. Pikiran para seniman tidak selalu bersifat abstrak dalam menuangkan idenya.

4. Seni

Dalam kehidupan manusia, tidak satu pun yang tak dapat diungkapkan dalam seni, baik yang bersifat murni maupun yang bersifat rohani. Dengan bertolak dari suatu pernyataan bahwa seni adalah penampilan (representation) dan bukan kenyataan (reality), maka seniman dapat mengatasi banyak hal, termasuk kengerian dalam hal apapun, secara moral atau fisik, agar kita dapat menampilkan subjek itu. Apa yang tidak menyenangkan ini bermacam-macam, seperti apa yang dirasakan mendekati kematian, kegelapan pikiran, kesulitan, hasil pendidikan yang sangat kompleks; kebuasan, nafsu kotor, kekejaman, yang secara tersembunyi ada pada setiap manusia. Dari semua fase kehidupan ini dapat mendorong pengalaman estetis, sehingga menghasilkan bentuk yang menarik. Seniman juga dapat mengemukakan suatu bahan pikiran tertentu, renungan atau ajaran tertentu bagi para publiknya. Bila objek seni terdiri dari unsur seni itu sendiri secara murni, maka seniman dapat menampilkan karyanya melalui unsur-unsur tersebut.

Semua objek yang ditampilkan oleh seniman berasal dari fase kehidupan manusia, alam pikiran, ajaran tertentu, kepercayaan dan dunia estetika itu sendiri, yang disebut dengan tema. Tema dalam seni terdiri dari lima (5) macam, yaitu:


  1. Tema yang menyenangkan, tema yang paling mudah dan paling digemari oleh seniman dan mudah dihayati publik. Tema ini terdiri dari; tema berbesar hati (optimistis), tema bercinta luhur (idealistis), tema yang menimbulkan rasa enak atau membius.
  2. Tema yang tidak menyenangkan, yang terdiri dari; tema yang mengerikan (tragis), tema yang menyedihkan (pathetis).
  3. Tema yang lucu, tema ini dapat meragukan situasi tema yang menyenangkan atau tidak menyenangkan. Yang menjadi objek seolah-olah berpura-pura namun tidak mengena.
  4. Tema renungan, yang berisi; keanehan dari fantasi seniman atau apa yang hidup dalam manusia sendiri, nasehat atau khutbah yang bersumber pada agama dan moralitas.
  5. Tema ungkapan estetis, tema ini membina seni menjadi lebih murni, karena seniman memanipulasi berbagai kemungkinan dari unsur komposisinya. Tema ini mempunyai kemungkinan lebih murni dalam mengubah suatu karya seni, karena tidak terikat oleh makna dan nilai lain, atau tema dan cerita.
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline