Lihat ke Halaman Asli

Memandang Terorisme dari Kacamata Psikologi

Diperbarui: 18 Mei 2018   09:21

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi: fairobserver.com

Aksi teror bom berturut-turut yang terjadi ini merupakan penanda tugas besar bagi pemerintah dan aparat keamanan negeri ini yang belum terselesaikan. Pemberantasan tindak terorisme di Indonesia semakin mengarah dari "lampu kuning" ke "lampu merah". 

Terorisme adalah topik yang dapat dipandang dari banyak perspektif, seperti hukum, politik, sosial,  agama, dan sebagainya. Namun kali ini saya akan mencoba memberikan pandangan dari bingkai psikologi.

Seperti yang kita ketahui, pelaku terorisme menggunakan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuannya.  Dari penelitian Pennsylvania State University's International Center for the Study of Terrorism yang dilakukan oleh psikolog John Horgan, PhD pada 60 orang mantan pelaku terorisme, dinyatakan bahwa orang-orang yang bertendensi untuk mengikuti rekrutmen kelompok tersebut memiliki karakteristik berikut ini:

  • Merasa marah, teralienasi dan kehilangan haknya
  • Meyakini bahwa keterlibatan mereka dalam politik saat ini tidak memberikan mereka kemampuan untuk membawa perubahan
  • Mengidentifikasi korban mereka sebagai kelompok yang berada di pihak yang melakukan ketidakadilan sosial
  • Merasa butuh untuk melakukan tindakan nyata
  • Mempercayai bahwa melakukan kekerasan melawan negara tidaklah amoral
  • Memiliki teman atau keluarga yang bersimpati terhadap alasan mereka
  • Mempercayai bahwa bergabung dalam gerakan terorisme menawarkan penghargaan sosial dan psikologis seperti rasa petualangan, persaudaraan, dan peningkatan identitas diri.

Menyasar generasi usia produktif terutama generasi muda.

Dikutip dari Media Indonesia, data sasaran program deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Februari 2017 menyatakan bahwa lebih dari 52% narapidana teroris berusia 17-34 tahun. Perlu diperhatikan bahwa sasaran rekrutmen anggota menargetkan kalangan usia produktif terutama generasi muda.

Hal ini berkaitan dengan proses pencarian jati diri dan juga kemudahan akses informasi daring membuat kelompok ini menjadi rentan terhadap konten radikalisme. Arus konten radikalisme yang masif dan kemampuan penjaringan yang lemah membuat mereka mudah terprovokasi oleh propaganda tersebut.

Ansietas sosial kelompok adolesens.

Kelompok adolesens sering mengalami kesulitan dalam membuat keputusan, perilaku impulsif, dan juga ansietas atau kecemasan sosial. Penelitian yang dilakukan Yurgelun-Todd menyatakan bahwa banyak perilaku kelompok adolesens didasari usaha untuk menghilangkan rasa ketertinggalan dan karena mereka ingin menjadi bagian dari sesuatu.  Dimana terdapat hubungan antara kecemasan sosial ini dan perkembangan otak yang turut melibatkan "amigdala" yang merupakan pusat utama regulasi emosi.

Kondisi psikologi yang labil ini menyebabkan "celah kekosongan" pada diri seseorang dan menjadikan dirinya mudah "diisi" dengan apa saja. Dilihat dari data usia para pelaku teroris seperti yang telah disebutkan, sebagian besar sedang berada pada fase transisi menuju maturitas dan kedewasaan. Dimana apa yang diserap pada masa ini akan mempengaruhi karakter dan apa yang diyakininya saat mereka mencapai "year of true maturity".

Internalisasi motivasi.

Motivasi yang ditumbuhkan dalam diri pelaku bisa bersifat patologis baik secara psikologis atau sosial. Namun terdapat juga pendapat menyebutkan bahwa kelompok teroris juga bisa merupakan orang-orang yang normal, jauh dari karakter patologis atau abnormal. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang normal yang sepenuhnya sadar atas apa yang mereka lakukan. Akan tetapi, tujuan tertentu disertai paham ideologi  yang telah mengakar menjadi legitimasi atas tindakan yang dilakukan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline