Lihat ke Halaman Asli

Era Melani

Rakyat kecil

Indahnya Berbagi di Tengah Keberagaman

Diperbarui: 20 Mei 2021   13:21

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dok. pribadi

Indahnya Berbagi di Tengah Keberagaman

Sejak kecil, aku dikelilingi oleh lingkungan yang membawaku pada keberagaman yang ada. Dimulai sejak aku masih kanak-kanak, aku baru menyadari bahwa kedua orang tua ku menganut keyakinan yang berbeda namun tetap sepakat untuk bersama. Jangan tanyakan aku bagaimana kedua orang tuaku bisa menikah, karena pada saat itu pun aku juga belum lahir hehe. Ibuku adalah seorang Katolik yang taat beribadah. Sejak kecil beliau selalu mengikuti kegiatan di gereja maupun acara-acara lingkungan seperti doa bersama, paduan suara, dll. Sedangkan, ayahku adalah seorang muslim yang mungkin dirasa kurang fasih dalam mengaji dan sebagainya. Namun tetap berusaha untuk emelnjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim yang beradab.

Pada tahun 2000, ketika aku dilahirkan. Ibu memutuskan agar aku mengikuti keyakinannya.

Di tengah keberagaman tersebut, kedua orang tuaku tak pernah mengajarkan ku untuk membeda-bedakan atau bersikap intoleran kepada masyarakat lainnya, bahkan ketika aku beranjak menuju Sekolah Menengah Pertama (SMP), ibu memutuskan untuk menyekolahkan aku di sekolah negeri yang mayoritas peserta didiknya beragama muslim. Padahal sejak aku duduk di bangku Taman Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD), ibuku menyekolahkanku di salah satu sekolah swasta katolik di kotaku.

Awalnya memang cukup sulit untuk beradaptasi, di Sekolah Dasar Katolik, kami yang mayoritas beragama katolik selalu mengadakan doa bersama tiap pagi, dan selalu mengadakan acara misa tiap bulan di sekolah. Sedangkan, di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN), hanya sedikit siswa yang beragama katolik. Kami yang beragama katolik ditempatkan di satu kelas yang sama agar mudah dalam berkoodinir apabila pada saat mata pelajaran agama.

Saat SMP, mayoritas teman-temanku beragama muslim, bahkan aku memiliki teman-teman dekat berjumlahkan 9 anak yang di dalamnya hanya ada aku yang beragama katolik. Namun, hal ini tidak menjadikan pertemanan kami terganggu. Bahkan, pertemanan kami dapat langgeng hingga kami duduk di bangku perkuliahan.

Sejak SD, ibu dan ayahku selalu melakukan tradisi saat Ramadhan tiba. Yaitu tradisi Berbagi Takjil untuk orang-orang di luar yang lebih membutuhkan. Eitss for your information atau FYI, sebenarnya dalam KBBI Takjil memiliki arti mempercepat (dalam berbuka puasa). Kata takjil sendiri berakar dari kata 'ajila yang dalam Bahasa Arab memiliki arti menyegarkan. Dengan kata lain, takjil memiliki makna menyegarkan ketika berbuka puasa, bukan hidangan yang disajikan saat berbuka puasa. Namun seiring berjalannya waktu, makna "takjil" pun mengalami pergeseran. Sekarang ini banyak orang mengartikan bahwa takjil merupakan makanan ringan yang disantap saat berbuka puasa.

Saat puasa, terkadang aku turut menemani ayah untuk berpuasa, ada salah satu pengalamanku yang mungkin aku merasa kurang nyaman apabila seseorang bertanya kepadaku. "Apa tujuan mu berpuasa?" Mungkin kurasa pertanyaan itu kurang sopan untuk ditanyakan. Karena ketika aku mencoba untuk berpuasa, aku tidak pernah memiliki target yang harus aku tuju. Karena menurutku, ketika kita memutuskan untuk berpuasa, berarti kita turut belajar memahami bagaimana masyarakat di sekitar sana yang kesulitan untuk sekedar makan tepat waktu dan teratur. Pun, puasa memiliki manfaat yang dapat menyehatkan tubuh.

Di tengah pandemi covid-19 ini, mayoritas teman-temanku SMP dapat berkumpul kembali di kota kami, karena perkuliahan kami dilaksanakan secara daring, sehingga kami dapat pulang dan berkumpul keluarga di rumah. Sejak saat itu, kami sering kali bertemu, tapi kami tak lupa untuk tetap memperhatikan protokol kesehatan yang ada.

Pada bulan Ramadhan tahun ini, intensitas pertemuan kami semakin bertambah, dan kami memutuskan untuk melakukan kegiatan sosial berupa bagi-bagi takjil di sudut-sudut kota kami. Akhirnya aku pun menawarkan agar masakan tersebut dipesan melalui ibuku, sehingga aku, dan ibuku dapat memasak takjil yang akan dibagikan. Beruntungnya, ada banyak sekali pesanan takjil yang berasal dari teman-teman ayah, dan teman-temanku. Sehingga kuantitas takjil yang kami bagikan cukup banyak.  

Di berkah Ramadhan ini, banyak sekali orang-orang baik yang siap menyisihkan sedikit miliknya untuk berbagi makanan-makanan untuk masyarakat sekitar. Takjil ini, aku dan teman-temanku bagikan dengan memperhatikan target sasaran yang dirasa sangat membutuhkan prioritas bantuan takjil ini, lalu setelah itu baru kami membagikan takjil-takjil yang lain untuk orang-orang yang sedang berada dalam perjalanan sehingga membutuhkan makanan ringan untuk membatalkan puasanya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline