Lihat ke Halaman Asli

Muthiah Alhasany

TERVERIFIKASI

Pengamat politik Turki dan Timur Tengah

Pada Suatu Perjalanan di Malam Ramadan

Diperbarui: 28 April 2020   22:57

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi daerah di Turki (dok. Gabriel)

Aku tak dapat menahan kegelisahan. Pandemi Covid 19 ini membuat aku mencemaskan seluruh keluarga. Terutama yang tinggal di desa dekat perbatasan, aku kuatir mereka belum mendapatkan perlengkapan yang cukup untuk melindungi diri. 

Memang dari Istanbul, semua penduduk tidak diperbolehkan keluar rumah. Namun ada hal-hal urgensi yang bisa diizinkan. Karena itu aku bertekad pulang kampung dengan membawa barang-barang yang dibutuhkan. 

Kebetulan aku mendapatkan teman perjalanan, Zaenab dan suaminya yang merupakan tetangga satu apartemen. Mereka berasal dari daerah yang sama dengan keluargaku.

Seorang sahabat yang menjadi pejabat teras,  mengeluarkan surat pengantar agar kami bisa keluar kota. Tentu saja setelah menjalani serangkaian test yang membuktikan kami sehat. 

Kami juga diwajibkan masuk karantina ketika setelah nanti  memasuki provinsi dimana keluarga berada. Tak mengapa, yang penting aku bisa memastikan peralatan yang dibutuhkan  diterima keluarga.

Selepas Maghrib dan berbuka puasa, kami berangkat. Suami Zaenab  yang memiliki mobil dan menjadi supirnya. Soalnya aku tidak bisa menyetir.

Kendaraan yang kami gunakan melaju kencang nyaris tanpa berhenti.  Jalanan kosong, apalagi yang menuju luar kota. Selama di jalan kami hanya berpapasan beberapa kendaraan.

Saat tengah malam, kami sudah melewati dua provinsi. Kami tidak berhenti kecuali untuk mengisi bensin. Ada bekal minum dan makanan kecil yang sebelumnya sudah disediakan.

Pukul dua dini hari akhirnya kami mulai mendekati jalur masuk ke daerah yang dituju. Dari kejauhan kami melihat kelompok tentara yang berjaga. Ada sebuah gedung yang menjadi posko mereka.

Penjagaan dan pemeriksaan oleh militer adalah hal biasa di daerah yang dekat dengan perbatasan negara lain seperti Suriah dan Iran. Turki sangat ketat dalam hal ini.

Seorang prajurit memberi isyarat agar kami menepi. Mereka meminta kami turun dan masuk ke posko. Di sana kami diperiksa dan diberondong berbagai pertanyaan. Aku pun menunjukkan surat pengantar.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline