Lihat ke Halaman Asli

[UDF-13] Pojok Baca Rangkat

Diperbarui: 24 Juni 2015   04:29

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

1365039959114486655

" Belum menjadi sesuatu yang luar biasa, tetapi cukup berarti untuk memberikan manfaat bagi yang membutuhkan, dan suatu saat nanti dengan  didasari ketulusan dan kebulatan tekad membantu sesama, semoga akan menjadi lebih besar dan lebih bermanfaat" gumamku ketika melihat dokumentasi kegiatan Desa Rangkat  setahun yang lalu di daerah Tangerang.

"Aciiiiikkkkkkkkkkkkkkkkkk!!!!!!!! Busyettt dah nih anak, yang lain pada sibuk nyiapin pilkades buat besok, ehhh kamunya  malah enak-enakan duduk di sini sambil liatin foto. Kagak sopan banget ye kamu  tuh. " Suara  bising kayak knalpot khas si ratu bawel desa rangkat langsung mendadak membuat pagi dan secangkir kopiku berasa hambar dan tak berasa.

"Siallll, dia lagi. Lama - lama gendang telingaku pecah nih, kalo tiap kali ketemu sama dia diteriakin mulu." Gerutuku sambil menutup album foto dan langsung pasang muka masam depan mbak Fitri si ratu bawel rangkat.

" Kenapa sih mbak, tiap kali ketemu sama aku, teriak mulu, kayak neriakin maling aja. Masih mending kalau suaranya enak didengar. Ini, udah suaranya cempreng, kayak knalpot lagi. " gerutuku masih terlihat kesal.

"Hahahahahaha....... Ah  Cik, cuma kamu  aja tuh yang bilang kalau suaraku  cempreng kayak knalpot"  balas mbak Ffitri terlihat pede sambil sedikit memainkan jilbab warna ungunya.

" Eh, Cik, kamu lagi liatin apaan sih tadi? Kayaknya kok serius banget? " Tanya mbak Fitri penasaran

" Ohhh... foto - foto pas kegiatan rangkat di Tangerang mbak Fit.  Kalau aku ngga salah ingat, setahun yang lalu. Kegiatan "Pojok Baca Rangkat" di Tangerang. " jelasku sambil menerawang menatap ke luar jendela  ruangan kerjaku.

Penjelasan singkatku, membuat rasa penasaran mbak Fitri semakin berlanjut, sehingga menggerakkan tangannya untuk mengambil album foto yang tadi aku letakkan di atas meja kerjaku.  Sepintas aku perhatikan, dia tersenyum penuh arti melihat lembar demi lembar album foto tersebut.  Sesekali dia bergumam. Tapi aku tidak begitu mendengarnya. Gumamannya pun tak begitu jelas terdengar.

"Hemm...kalau tiap tahun desa kita mengadakan kegiatan seperti ini, mantap, Cik!!!!! Nah, desa kita kan sedang ada hajatan nih, mau ada perhelatan pilkades. Bagus juga nih, kalau misalnya kegiatan seperti ini dimasukkan ke salah satu program kerja mereka. Giman, cik??? Ideku brilliant kan???? " sikap belagunya selalu saja  membuatku jengah, walaupun kadang - kadang idenya lumayan brilliant juga.  Akupun hanya menganggukkan kepala tanda setuju dengan ide yang ada di kepalanya.

"Tapi, mbak... nantinya, kalau benar - benar  terealisasi bisa bikin 'pojok baca rangkat"  tiap tahunnya, plisss banget dah, jangan dijadiin ladang bisnis yak.... Pliissss banget mbak... " ucapku dengan nada agak sedikit serius dan sedikit  mengiba, walaupun dalam hati, aku tertawa puas bisa buat dia dongkol dengan ucapanku barusan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline