Lihat ke Halaman Asli

Yermia Riezky

Penulis dan fotografer lepas berdomisili di Makassar.

Akankah Romo Mangun Ikut Debat Televisi?

Diperbarui: 25 Juni 2015   05:35

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Saya tak pernah bertemu langsung dengan YB Mangunwijaya. Pastur yang kerap disapa Romo Mangun ini sudah wafat tahun 1999 lalu. Tahu dan mengenal karya-karyanya pun baru dua tahun belakangan.

Namun, selama dua tahun ini, karya Romo Mangun termasuk menginspirasi saya, terutama di bidang kemanusiaan dan kemampuan menulisnya. Kesaksian dari sejumlah sahabat yang tertuang dalam buku mengenang Mangunwijaya terbitan Kanisius ataupun dalam empat jilid Forum Mangunwijaya terbitan Kompas, seperti saya menyesali, kenapa Sang Romo pergi terlalu cepat.

Romo Mangu tak sempat melihat sahabatnya, Gus Dur yang menangisi kepergiannya, memimpin negara ini meski hanya sebentar. Romo pun tak sempat menggugat pelaksanaan otonomi yang melahirkan raja-raja baru. Pasti, ia pun tak segan memunculkan lagi pemikirannya mengenai negara Federal yang terinspirasi dari dua tokoh idolanya, Hatta dan Sjahrir.

Jika Romo Mangun masih hidup di era modern ini, hanya ada satu hal yang saya pikirkan. Apakah ia akan ikut nimbrung dalam debat penuh gagasan di televisi? Satu hal yang tak pernah terjadi di jamannya, saat TVRI masih berkuasa.

Saya tergelitik dan cukup lama memikirkan masalah ini. Namun saya menyerah. Saya tidak bisa memberikan jawaban yang pasti. Saya berkompromi, karena memang Romo tak pernah hidup di jaman penuh debat pepesan kosong seperti sekarang.

Jawaban saya, pertama, Romo Mangun tak bakal sudi nongol di TV. Kedua, ia mau, tapi hanya sekali-kali menyempatkan diri.

Pendapat pertama berdasarkan sifat Mangunwijaya sebagai pekerja lapangan. Jika ia masih hidup sampai saat ini, sepertinya ia lebih memilih membenahi karya masterpicenya di Kali Code, Jogjakarta, yang terimbas letusan Merapi 2010 lalu. Atau ia akan memajukan sekolahnya di Sleman, sambil membawa murid-muridnya berjalan-jalan menikmati alam dan membiarkan muridnya bertanya sesuka hati. Kurikulum yang dibangun pengarang Trilogi Roro Mendut ini memang merancang sekolahnya yang diawali dengan pertanyaan murid, bukan dari bahan ajar yag diberikan guru.

Atau, jika tak sibuk keduanya, Romo akan sibuk menulis. Melahirkan berbagai artikel yang dirindukan Kompas. Atau mengajar arsitektur di jurusan arsitek yang saat ini dibanjiri peminat. Atau, ia akan mengikuti diskusi di berbagai tampat (bukan di TV) yang sudah lebih bebas ketimbang masa orde baru dulu. Dalam diskusi, Romo Mangun akan tersenyum  menanggapi pertanyaan atau pernyataan peserta diskusi yang bertanya-tanya dengan mata melotot dan pamer urat leher. Mumpung ini masa kebebasan mengemukakan pendapat.

Saya melihat, Romo Mangun lebih cenderung seperti Romo Sindhunata, mantan wartawan kompas, yang tulisan featurenya sering bikin air mata tumpah, atau perut melilit sakit. Siapa yang pernah melihat wajah Shindunata di berdebat di TV?

Eksistensi Sindhunata hanya bisa diindera di majalah Basis, atau Opini maupun tulisan sepakbolanya di Kompas. Sindhunata membawa pembaca menjalani ziarah batinnya melalui tulisan yang kaya filosofi, namun dengan bahasa renyah sehari-hari.

Saya lebih condong ke pendapat pertama ini. Romo Mangun sebagai orang lapangan, rasanya memilih bergerak di tingkat akar rumput. Namun, jika butuh bermain di tingkat pejabat, ia akan menjewer telinga pejabat dengan tulisan-tulisannya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline