Lihat ke Halaman Asli

Kalau "Lockdown" Diberlakukan, Bagaimana Nasib Kami, Pak?

Diperbarui: 16 Maret 2020   19:51

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

pinterest.com/carmendomenack

Oh wabah virus corona, mengapa ada saja yang membuat orang melarat kian melarat. Dalam keadaan normal saja sulit mencari penghidupan. Harus berjuang mengukur jalan. Apalagi ada wabah begini.

Setiap orang dicurigai akan jadi penular. Mendekat pun tak berani. Apalagi menyantap sajian saya. Soto lamongan yang saya jajakan hampir tak laku. Masak setengah hari hanya sekian mangkuk yang terjual.

Apakah di mangkuk saya ada virus coronanya? Apakah semua orang yang ada di jalanan menjadi penyebab tersebarnya virus corona. Tak sampai otak saya memikirkannya.

Kalau tak keliling menjajakan dagangan saya. Harus menunggu di rumah, siapa yang mau membeli. Kantor tutup, sekolah tutup, saya harus jualan di mana? Padahal biasanya menjelang makan siang saya mangkal di depan perkantoran.

Pada saat jam istirahat saya mangkal di depan gedung sekolah. Sambil menunggu kalau ada orang tua siswa yang menunggu anaknya pulang. Mereka sempat berbelanja. Kini semuanya tak ada.

Saya tidak sendiri mengalami nasib begini. Ada ribuan pedagang lain. Bagaimana nasib mereka? Ada pedagang cilok, pentol, es cendol, es dawet, es godir, es kelapa. Tak sedikit warteg di pinggir jalan yang pada kindisi normal sepi pembeli. Apalagi sedang ada wabah begini.

Memangnya salah kami apa? Kami semua tak pernah ke luar negeri, seperti orang kaya. Dengan uang banyak mereka melancong ke mana saja. Sesuka hatinya. Dan ketika datang ke tanah air membawa virus corona di tubuhnya. Kami harus ikut menderita menanggung akibatnya.

Kalau bagi yang kaya, gampang. Aksi borong bahan makanan di mall dan market besar. Setelahnya duduk manis sambil menonton televisi atau main game seharian tak mengapa. Mainan media sosial tak ada yang melarang. Tak bakal kelaparan.

Sementara kami, pada pedagang keliling bagaimana? Mencari uang hari ini untuk dimakan hari ini. Jika harus libur, tak boleh ke luar rumah kami harus mencari utang ke mana? Kami tak tahu berapa lama kondisi ini akan terus begini.

Kami tahu kalau dengan mendekati orang yang tak dikenal besar peluang akan tertular. Jangankan membeli sabun antiseptik dan memakai masker. Membeli beras untuk makan sehari-hari saja harus berkuah keringat dan membanting tulang. Kadang cukup kadang tidak.

Apakah nasib orang miskin harus lenyap karena virus corona suatu ketika? Entahlah. Bagi kami penyakit apa pun bisa membuat kami mati. Kolera, demam berdarah, types, malaria, dan lainnya karena memang biaya berobat mahal. Kalau dahulu ada BPJS yang diperuntukkan bagi warga miskin, sekarang sangat sulit pengurusannya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline