Lihat ke Halaman Asli

Effendy Wongso

Jurnalis, fotografer, pecinta sastra

Magnolia dalam Seribu Fragmen Rana (11)

Diperbarui: 21 April 2021   22:55

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi novel Magnolia dalam Seribu Fragmen Rana. (Inprnt)

Kularikan kegamanganku ke Gobi
bercerita pada basir pasir
dan sekawanan rajawali
tentang perintah Si Raja Gurun
Ayah segala nomad
yang diamanatkan kepadaku

Ia berkata
taklukkan Tionggoan agar kita dapat bernaung
dalam sebuah negeri istana
namun tak kugubris seruannya
sebab ambisi hanya majas fatamorgana

Kao Ching
Temujin Suatu Hari

Gumpalan awan menghitam di bujur ekuator langit. Beberapa walet beterbangan mengitari barak-barak di bawah kaki bukit Tung Shao. Di antaranya menelusup di rimbunan daun bambu. Sesekali melesat sangat rendah, mendekati beberapa pasukan Han yang sedang mengaso.

Ada meja hyang yang ditata menghadap sebelah timur. Dialasi satin kuning telur dengan seperangkat alat pemuja, meja kayu persegi itu tampak angker mengundang pewaka. Jenderal separo baya, Shan-Yu, mengenakan jubah kelabu menjuntai menyisir tanah. Mengibaskan pedang perak ularnya di atas kepala, sejurus mengarahkannya ke depan, menusuk selembar fu yang tergeletak di samping paidon bersetanggi ladan.

Diangkatnya fu itu ke atas api lilin yang sedang mengobar. Bibirnya bergetar kemu. Serangkaian mantra mengalir bersamaan dengan mengabunya jimat dari kertas tersebut. Sebasung manekin jerami berdiri di depan paidon yang masih menyembulkan tabir asap. Simbol-simbol aneksorsis, wujud kasatmata dalam manekin yang ia buat dan diurapi dengan roh-roh para arwah gentayangan.

Ritual bulanannya. Ia hidup dari autotrop hawa dingin tsar chi. Ilmu Telapak Penghancur Tengkorak ciptaan Auw Yang Pei San yang ia dalami mesti dialiri dengan tenaga negatif yang berasal dari makhluk-makhluk halus dimensi lain. Setiap rembulan memurna gelap, ia akan mengundang arwah-arwah untuk bersekutu. Menghimpun kekuatan gelap demi mewujudkan ambisinya. Agar suatu saat kelak tidak ada pendekar manapun di Tionggoan mampu mengalahkannya.

Ia akan menjadi penguasa di negeri itu!

"Jenderal Shan-Yu...."

Ada sapaan yang melantun tepat ketika ia telah menyelesaikan ritualnya. Ia melepas jubah kelabu bersulam emas membentuk gambar anominitas di belakangnya. Disampirkannya pedang ular peraknya di punggung setelah memasukkannya ke dalam sarung ukir bambu kuning. Sebilah tali serupa pita merah mengikat pada pundak sebagai pegangan pedang ular peraknya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline