Lihat ke Halaman Asli

Kepada Perang dan Damai

Diperbarui: 5 September 2022   16:15

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi: m.pulsk.com

Kawan, dimana saja engkau berada ...

Kali ini aku mengukir di catatan harianku, di saat menjemput fajar tiba. Entah kenapa, manakala isra'-ku menyelami makna hidup dalam kehidupan yang sesungguhnya menurut maunya Tuhan, Tuhan bagi seluruh umat manusia tanpa kecuali suku, agama, ras, ataupun golongan, terbersit dalam pikiranku untuk mengisi catatan harian tentang perang dan menyoal perang sebagai pasangan dari damai . Oleh karenanya, kububuhkan titel dicatatan harianku kali ini dengan titel: 'Kepada Perang dan Damai'.

Perang, ya perang! Selalu ada dan silih berganti di waktu dan tempat yang berbeda-beda di sepenjuru permukaan bumi ini. Entah kenapa? Apakah karena memang bagian dari lakon anak manusia di panggung budaya dan peradaban di Bumi ini? Ataukah lantaran oleh simpulan filosofis yang pernah dilontarkan oleh sang jendral Clausewitz yang nama lengkapnya adalah Carl Philip Gottfied von Clausewitz, serorang tentara Prusia yang lahir pada 01 Juli 1780, dan wafat pada 16 November 1831, dengan adagiumnya yang populer dan mendunia, bahwa 'Perang adalah persiapan untuk Damai, Damai adalah persiapan menuju Perang'? Apakah lantaran memang begitukah dalam drama kehidupan yang dilakonkan oleh anak manusia? 

Perang itu sebuah permusuhan, bisa  antara kedua negara, bangsa, agama, suku, dan sebagainya. Atau, sebuah pertempuran besar antara dua pasukan, yakni antara tentara tentara, laskar, pemberontak dan sebagainya atau lebih. Menyangkut ranah konflik, perkelaihan dalam ekspresi sebuah permusuhan para pihak, dengan tujuan dan latar belakang yang macam-macam, dan dipicu oleh macam-macam pula. Perang Dunia-1 dan Perang Dunia-2, Perang Saudara Amerika (Civil War, Amerika, 1861 - 1865), Perang Saudara Rusia (1917 - 1921), Perang Saudara Spanyol (1936 - 1939), Perang Saudara Yunani (1946 - 1949), Perang Saudara Yaman (1962 - 1970; 2015 - sekarang), Perang Saudara Lebanon (1975 - 1999), Perang Saudara Yugoslavia (1991 - 1995; 1996 - 1999, 2001), Perang Saudara Nugini (2009) dan lain sebagainya termasuk di dalamnya adalah Perang Saudara 1965 di Indonesia berlatar belakang politik kekuasan yang masih belum diakui resmi sebagai Perang Saudara dalam sejarah Indonesia, adalah sebagai contoh sebuah perang saudara. Dimana perang yang paling update adalah Perang Russia vs Ukraina (2022 - sekarang). Banyak pula perang-perang lain yang bukan berkategori sebagai perang saudara dalam sejarah peradaban manusia yang digelar sejak tampilnya budaya dan peradaban anak manusia bernama Adam.

Prinsip umumnya, perang adalah sebuah aksi fisik dan non fisik (dalam arti sempit, adalah kondisi permusuhan dengan menggunakan kekerasan) antara dua atau lebih kelompok manusia untuk melakukan dominasi di wilayah yang dipertentangkan. Perang secara purba dimaknai sebagai pertikaian bersenjata. Di era modern, perang lebih mengarah pada superioritas teknologi dan industri. Hal ini tercermin dari doktrin angkatan perangnya seperti 'Barang siapa menguasai ketinggian maka menguasai dunia'. Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan atas ketinggian harus dicapai oleh teknologi. Namun kata perang tidak lagi berperan sebagai kata kerja, tetapi sudah bergeser pada kata sifat. Yang memopulerkan hal ini adalah para jurnalis, sehingga lambat laun pergeseran ini mendapatkan posisinya, tetapi secara umum perang berarti 'pertentangan'.

Kawan, dimana saja engkau berada ... 

Kenapa perang itu harus terjadi? Secara spesifik dan wilayah filosofis, perang merupakan turunan sifat dasar manusia yang tetap sampai sekarang memelihara dominasi dan persaingan sebagai sarana memperkuat eksistensi diri dengan cara menundukkan kehendak pihak yang dimusuhi. Dengan mulai secara psikologis dan fisik. Dengan melibatkan diri sendiri dan orang lain, baik secara kelompok atau bukan. Perang dapat mengakibatkan kesedihan dan kemiskinan yang berkepanjangan. sebagai contoh perang dunia yang mengakibatkan hilangnya nyawa beratus-ratus orang di Jepang dan tentu saja hal ini mengakibatkan kesedihan mendalam dalam diri masyarakat Jepang. Penyebab terjadinya perang di antaranya adalah karena perbedaan ideologi, keinginan untuk memperluas wilayah kekuasaan (hegemoni), perbedaan kepentingan, perampasan sumber daya alam (minyak, hasil pertanian, dan lain-lain).

Sudut pandang Islam, memandang perang sebagai bagian dari wacana keagamaan. Pembahasan mengenai perang dalam Islam telah dikaji sejak masa klasik hingga kontemporer. Secara umum, istilah perang dalam Islam diwakili dengan menggunakan kata 'jihad'. Namun, kata 'jihad' tidak mencakup semua jenis peperangan di dalam Islam. Perang dalam konteks Islam juga dapat diartikan sebagai usaha untuk menegakkan kebenaran agama dengan harta dan nyawa. Penegakan ini dilakukan atas orang-orang 'kafir' yang dalam Islam dianggap telah menolak kebenaran agama Islam.

Perang Dingin adalah perang yang tidak ada penggunaan kekerasan bersenjata secara terbuka, tetapi kondisi dan suasana antara dua pihak yang bertentangan sangat mirip dengan keadaan perang. Sebagai misal adalah Perang Dingin antara Dunia Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat bersama sekutunya (NATO) yang berhadapan dengan Uni Soviet beserta sekutunya yang tergabung dalam grup Pakta Warsawa, 1947 -- 1991. Sedangkan perang umum adalah perang yang mengejar tujuan luas dengan menggunakan seluruh kemampuan negara dan dilakukan di seluruh dunia, yakni perang dunia, perang ekonomi, perang politik, perang agama, dan yang paling mengerikan bila ke depan benar terjadi adalah perang nuklir. Adapun perang terbatas adalah perang yang terjadi antara dua bangsa saja atau perang yang tidak melibatkan banyak bangsa secara luas dilihat dari sudut tujuan, penggunaan kekuatan, dan lingkup wilayah, misalnya perang saudara, perang suku, perang antar negara, dan perang ekspansi.

Damai memiliki banyak arti. Arti kedamaian berubah sesuai dengan hubungannya dengan kalimat. Perdamaian dapat menunjuk ke persetujuan mengakhiri sebuah perang, atau ketiadaan perang, atau ke sebuah periode di mana sebuah angkatan bersenjata tidak memerangi musuh. Damai dapat juga berarti sebuah keadaan tenang, seperti yang umum di tempat-tempat yang terpencil, mengizinkan untuk tidur atau meditasi. Damai dapat juga menggambarkan keadaan emosi dalam diri dan akhirnya damai juga dapat berarti kombinasi dari pengertian di atas. Konsepsi damai setiap orang berbeda sesuai dengan budaya dan lingkungan. Orang dengan budaya berbeda kadang-kadang tidak setuju dengan arti dari kata tersebut, dan juga orang dalam suatu budaya tertentu.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline