Lihat ke Halaman Asli

Ign Joko Dwiatmoko

TERVERIFIKASI

Yakini Saja Apa Kata Hatimu

Depok yang Semakin Lucu

Diperbarui: 13 Juli 2019   18:41

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pemisahan Parkir di Depok (Tribunnews.com)

Alunan Musik di Kantong-Kantong Kemacetan

Pengendara motor akan segera terhibur dengan alunan musik yang keluar dari pengeras suara di pertigaan, perempatan dan  persimpangan. Bukan apa- apa hanya untuk menghibur agar tidak stres di jalanan karena kota yang tidak pernah sepi dan selalu macet terutama di jalur pusat seperti di Jalan Margonda Raya. 

Depok akan selalu ramai dan cenderung macet karena masyarakatnya memang hobi keluar dan tidak suka lama- lama di rumah. Perumahan. Kampus, kuliah, Mal, berdesakan di kotatif yang relatif kecil tersebut. Para pekerja ibu kota setiap pagi membanjir dari kantong- kantong perumahan, kluster di sekitar Depok, Sawangan dan sekitarnya. 

Melewati Margonda dan akhirnya tidak kuasa menolak berbagai tranportasi yang memenuhi jalanan cukup sempit tersebut. Padahal kiri kanan Margonda tersebut adalah kampus, mal, kafe, warung, pasar, stasiun. Betapa ruwetnya. 

Hasrat Wali kota memang unik ingin menjadikan kota sebagai pusat peradaban, kota gaul, kota pelajar, kota belanja kota nyaman tinggal, kota religius bersyariah. Ah sangat beragam sekali impian Wali Kota. Saya mengingatnya bermula dari Nur Mahmudi Ismail.

Kemacetan di Depok (poskotanews.com)

Saya pernah tinggal cukup lama di Cimanggis dan selalu mampir dulu mengistirahatkan badan di danau depan Universitas Indonesia. Motor masih diparkir kalau tidak di sekitar stasiun UI atau stasiun Pondok China. Keluar sebentar dari situ sudah jalan protokol yaitu Jalan Margonda Raya. 

Ada Plaza Depok  sekarang D Mall dan Mal Margocity Square yang yang berhadap - hadapan. Lurus ke arah pusat kota ada kantor wali kota dan stasiun Depok Baru dan Depok lama.

Yang penulis heran tata kota rata- rata kota penyangga tidak memperhitungkan betapa sempitnya jalan- jalan yang tersedia. Padahal jika setiap weekend motor- motor, mobil dan trasportasi daratnya luar biasa membuat hampir semua jalan macet- cet. TIdak hanya di Depok di Pamulang saja terjadi kemacetan parah jika anda kebetulan datang ke sana.

Masuk ke kota Depok pemandangan utama adalah kemacetan. Padahal pengendara tentu pengin cepat -- cepat sampai di rumahnya ingin istirahat, tetapi setiap kali pulang kerja mereka harus berjibaku menembus kemacetan yang super- super parah. Parkir hampir selalu mengkokupasi pinggiran jalan, tentu tidak bisa dihindarkan karena banyak warung, kafe, tempat tongkrongan memenuhi sisi- sisinya.

Akhirnya Wali kota mencoba menjawab keresahan masyarakat dengan menggaungkan ide memperdengarkan music di tempat- tempat rawan macet, sungguh luar biasa ide wali kota tetapi juga sekaligus memprihatinkan karena tidak berusaha mengurai masalah sebenarnya yang terjadi dengan kota Depok tersebut.

Permasalahan macet sangat berhubungan erat dengan sarana transportasi publik. Karena pelayanan transportasi publik masih jeblok maka meskipun macet- macet penglaju masih lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline