Lihat ke Halaman Asli

Dwi Klarasari

TERVERIFIKASI

Write from the heart, edit from the head ~ Stuart Aken

Mario: Merdeka Bermimpi, Berjuang Tiada Henti

Diperbarui: 5 September 2021   17:54

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

(Sumber: indonesiajuniorleague.com)

Hai pencinta bola! Penulis yakin, pencinta bola pasti kenal banyak pemain bola, nasional maupun internasional. Benar, kan? Nah, kalau diminta menyebut pemain bola profesional dengan nama depan Mario, kira-kira siapa yang terlintas dalam benak football lover?

Boleh jadi generasi senior segera membayangkan profil pesepak bola klasik Argentina, Mario Kempes. Generasi milenial hingga Gen-Z mungkin teringat pada Mario Gomez, Mario Gotze, Mario Pasalic, Mario Fernandes, Mario Mandzukic, atau si bengal Mario Balotelli.  

Bagaimana jika penulis sebut pesepak bola profesional bernama Mario Tobamuara Von Woloblo? Apakah football lover mengenalnya? Belum? 

Jangan sedih! Mario yang satu ini sekarang masih berusia 10 tahun. Belum menjadi pemain profesional. Dia sedang "digodok di kawah candradimuka" sepak bola Indonesia. Walaupun begitu bila football lover berselancar di internet, 'Mbah' Google pasti akan menunjukkan jati dirinya.  

Mario Woloblo, wing back SSB Metro Kukusan (Sumber: indonesiajuniorleague.com)

 

Hobi Berkembang Menjadi Cita-Cita

Mario Tobamuara Von Woloblo berdarah Flores - Batak. Dia putra ketiga pasangan Ibu Devianna Sianturi dan Bapak Petrus Yulius Woloblo (Alm.) yang lahir di Depok 27 April 2011. Meskipun kehilangan sang ayah saat masih berusia lima tahun, Mario mendapat pengasuhan yang baik sehingga tumbuh menjadi anak yang ceria dan suka bergaul.    

Selain bermain gim dan bersepeda, sepak bola merupakan kegiatan yang paling disukai siswa Kelas VB SD St. Theresia Depok ini. Di sekolah pun Pelajaran Olahraga--utamanya sepak bola--menjadi salah satu favoritnya. Perlahan tapi pasti hobi bermain sepak bola telah tumbuh menjadi sebuah cita-cita.

"Cita-cita saya jadi pemain sepak bola," kata Mario menjawab pertanyaan penulis.

Tampaknya tidak ada sedikit pun keinginan Mario untuk menjadi pengajar seperti kedua orang tuanya. Ibunda Mario adalah guru Fisika di SMAK Kasih Kemuliaan, Jakarta, sedangkan almarhum ayahnya dahulu adalah dosen di Universitas Cendana Kupang. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline