Lihat ke Halaman Asli

Dodi Kurniawan

Simplex veri sigillum

Asyik, Ramadan Segera Tiba!

Diperbarui: 25 Maret 2023   14:29

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Photo by iStockphoto

Ramadan tahun ini diperkirakan jatuh antara tanggal 22 atau 23 Maret 2023. Terlepas dari adanya kemungkinan berbeda saat mengawali hari berpuasa karena perbedaan sistem perhitungan awal bulan---antara hisab dan rukya---aroma kehadiran Ramadan sudah merebak sejak beberapa hari terakhir.

Ada hal yang menarik saat mengetahui bahwa setidaknya ada tiga agama yang pada kisaran tanggal 22-23 Maret ini melaksanakan ritual yang senafas dengan ibadah puasa.

Hari ini, 22 Maret sampai 23 Maret, saudara-saudara Hindu kita di Bali merayakan hari raya Nyepi. Umat Hindu melaksanakan Catur Brata, yakni penyepian yang terdiri dari amati geni (tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak makan dan minum). Sebentuk puasa dalam empat dimensi penyepian.

22 Maret 2023 juga, Gereja Katolik di Malta memulai masa Prapaskah Suci berupa 40 hari doa dan penebusan dosa. Pada hari Rabu ini saudara-saudara Kristiani kita di Malta melaksanakan Ash Wednesday (Rabu Abu)---atau dalam bahasa Malta disebut sebagai L-Erbga tar-Randan - Ras ir-Randan---di mana orang dewasa berpuasa dan menahan diri dari makan daging. Para pendeta mengadakan ibadah khusus yang meletakkan abu di atas kepala jamaah sebagai simbol kematian dan derita atas dosa. Anak-anak tidak makan manisan sebagai tanda pertobatan. Panci dan wajan diletakkan terbalik sebagai tanda berpuasa.

Sedikit tentang Malta, ternyata secara historis memiliki hubungan dengan bangsa Arab dan Islam setidaknya sejak tahun 870-1090 melalui dinasti Aghlabiyah. Bahkan jauh sebelum itu, Fenisia (Phoenicia) pernah menjajah Malta antara 800 dan 700 SM yang membawa bahasa dan budaya Semit ke kepulauan di Eropa Selatan ini. Jadi tidak terlalu mengherankan saat membaca L-Erbga tar-Randan terasa cukup akrab di telinga. Samar-samar terlintas kata-kata Arab al-Arbi'ah (Rabu) dan ar-Ramadhan (Ramadan).

Dan betul saja, saat membaca wawancara Malta Today dengan pakar sejarah Abad Pertengahan, Charles Dalli terungkap bahwa jejak-jejak Muslim Malta masih tetap ada bahkan ironisnya dalam nama-nama perayaan Katolik Malta.

"Sebagai contoh, kata Randan (puasa) berasal dari Ramadan---bulan suci puasa dan pengorbanan dalam Islam. Begitu juga, Gid (Paskah) memiliki akar dalam Eid al-Fitr, perayaan Islam yang penuh sukacita yang menandai akhir Ramadan, dan Milied (Natal) berasal dari Mawlid, perayaan Islam kelahiran Nabi Muhammad saw.

Selain itu, kata Il-imga (Jum'at) disebut demikian karena merupakan hari di mana umat Muslim di pulau itu biasa menghadiri shalat berjemaah mingguan Jumu'ah," ungkap Dalli.

Sungguh menarik. Meski nampaknya Dalli kurang teliti pada kata Milied yang lebih tepatnya berasal dari kata Milad. Dari Traditional Lenten Celebration kita juga menemukan istilah amis ix-Xirka dan l-Gimga il-Kbira yang bisa dilacak dari kata-kata Arab: Khamis al-Khair dan Al-Jumu'atul Kubra.

Puasa memang ditemukan di semua kebudayaan dunia. Michael Yellow Bird dari Universitas Manitoba, Kanada dalam tulisannya Decolonizing Fasting to Improve Indigenous Wellness menuturkan bahwa puasa bahkan adalah bagian dari evolusi manusia. "Selama jutaan tahun, pola makan nenek moyang kita berevolusi selama masa kelaparan dan kelimpahan, dengan iklim memainkan peran besar dalam makanan yang tersedia," ungkap Bird. "Kemudian, keadaan politik yang diakibatkan oleh kolonialisasi menyebabkan perubahan besar dalam ketahan pangan dan pola makan."

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline