Lihat ke Halaman Asli

Djulianto Susantio

TERVERIFIKASI

Arkeolog mandiri, senang menulis arkeologi, museum, sejarah, astrologi, palmistri, olahraga, numismatik, dan filateli.

Koin Kesultanan, Si Hitam Manis untuk Menyusun Sejarah

Diperbarui: 26 November 2021   09:07

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Koin Kerajaan Batubara 1158 H atau 1745 M (Foto: Museum Uang Sumatera di Medan)   

Negara kita memiliki sejarah panjang. Sebelum berbentuk republik seperti sekarang, di Nusantara terdapat banyak kerajaan atau kesultanan. Ada kerajaan/kesultanan besar, ada juga yang lebih kecil. Diperkirakan di Nusantara pernah ada puluhan kerajaan/kesultanan, atau mungkin lebih. Di sini yang dimaksud kerajaan/kesultanan berasal dari periode Islam, sebagaimana periodesasi dalam arkeologi.

Setiap kerajaan/kesultanan diketahui memiliki mata uang sendiri. Umumnya mata uang mereka terbuat dari logam. Ada yang berbahan emas, ada pula perak dan bahan-bahan lain seperti perunggu, tembaga, dan timah. Kemungkinan mata uang emas dan perak dikeluarkan oleh kerajaan/kesultanan besar. Kerajaan Samudera Pasai di Aceh diketahui pernah mengeluarkan uang emas dan perak. Begitu pula Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan.

Koin Palembang Darussalam untuk hiasan dinding (Dokpri)

Timah

Banyak kesultanan mengeluarkan mata uang berbentuk koin dengan bahan sederhana seperti timah, misalnya Kesultanan Palembang Darussalam. Banyak koin berasal dari masa ini, abad ke-17---18. Umumnya koin dari masa ini tipis sehingga mudah patah/rusak. Bahkan hanya bertulisan pada satu sisi dengan sisi lain kosong. Tulisan pada koin biasanya nama sultan atau lambang kesultanan.

Koin Kesultanan Palembang banyak dijual orang. Karena jarang disukai kolektor atau numismatis, maka harganya relatif murah. Koin ini banyak ditemukan di Sungai Musi. Saya punya koin dari masa ini dalam berbagai bentuk dan ukuran. Ada yang bolong, ada yang rapat atau buntu. Ada yang kecil, ada yang agak besar.

Beberapa tahun lalu saya beli seharga Rp 200 ribu sudah termasuk bingkai dan narasi. Yah, lumayanlah buat hiasan dinding.

Beberapa koin kesultanan saya dapat sebagai cenderamata ketika mengisi webinar tentang numismatik dan dari seminar. Dari Museum Uang Sumatera di Medan saya dapat koin Kesultanan Batubara. Dari CORE (Club Oeang Revoloesi) saya dapat koin Palembang. Umumnya koin kesultanan bertulisan Arab.

Sayang koin-koin kesultanan sudah berwarna hitam. Mungkin itu penyebab kurang disukai kolektor. Kecuali tentunya koin emas dan perak dalam kondisi cukup bagus.

Koin Kerajaan Batubara, cendera mata dari Museum Uang Sumatera di Medan (Dokpri)

Hitam manis

Meskipun 'hitam manis' sebenarnya koin kerajaan/kesultanan sangat bermanfaat untuk menyusun sejarah Indonesia atau sejarah lokal. Dulu uang-uang itu memainkan peranan penting. Karena bersifat lokal, jadinya koin-koin itu belum dikenal luas.

Sekadar gambaran di Kalimantan Barat sekarang, dulu pernah ada Kerajaan Sintang dan di Kalimantan Timur ada Kerajaan Kutai Islam (untuk membedakan dari Kerajaan Kutai abad ke-5 yang berciri Hindu).  

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline