Lihat ke Halaman Asli

Djulianto Susantio

TERVERIFIKASI

Arkeolog mandiri, senang menulis arkeologi, museum, sejarah, astrologi, palmistri, olahraga, numismatik, dan filateli.

Zaman Dulu Garam Digunakan untuk Membayar Gaji Pekerja

Diperbarui: 7 Agustus 2017   17:25

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi garam. Tribunnews.com

Berita hangat kali ini garam sedang langka sehingga kita perlu mengimpor garam dari Australia. Komentar miring bermunculan, mengaitkan pantai yang panjang dan laut yang luas dengan produksi garam yang sedikit. Guyonan pun muncul. Dikatakan garam langka karena gudang garam berisi rokok.

Garam pernah digunakan sebagai alat tukar di Ethiopia sampai 1920 (Sumber: Sejarah Uang, 1992)

Yang jelas garam sudah dikenal sejak berabad-abad lampau. Ada berbagai fungsi garam yaitu penyedap masakan, pengawet makanan, obat tradisional, bahan pelengkap untuk menghasilkan hujan buatan, dan masih banyak lagi.

Berbicara garam, tentu banyak cerita menarik. Baik di mancanegara maupun di Nusantara masa lampau. Semoga cerita tentang garam yang saya kompilasi dari berbagai sumber ini, menarik buat pembaca sekalian.

Gaji

Garam sangat penting bagi kehidupan. Filsuf Yunani Kuno, Plato, bilang garam merupakan material yang dicintai dewa. Pada masa Romawi Kuno harga garam sangat mahal dan langka. Maka pada masa itu garam dipakai untuk membayar gaji para pekerja dan prajurit. Dalam Bahasa Latin garam disebut salarium. Uniknya, kata salarium kemudian masuk ke dalam Bahasa Inggris, salary, yang berarti gaji.

Selain di Romawi Kuno, pada beberapa suku bangsa, pembayaran dilakukan dengan benda yang nilainya diakui. Misalnya tulang hewan, cangkang kerang, dan bahan makanan. Bahan makanan yang digunakan umumnya gandum dan garam. 

Sampai 1920 garam pernah digunakan sebagai alat tukar di Ethiopia. Entah bagaimana bentuk garam yang digunakan sebagai alat tukar. Dari ilustrasi yang ada, di Ethiopia uang garam berbentuk empat persegi panjang. Sayang tidak disebutkan ukuran batangan garam itu.

Nusantara

Di Nusantara pada masa ratusan tahun lalu, garam sudah diproduksi. Salah satu sumbernya Prasasti Biluluk I, bertarikh 1288 Saka atau 1366 Masehi. Prasasti itu berbahan tembaga dan ditemukan di Desa Biluluk, Lamongan (Jawa Timur). Aksara dan bahasa prasasti Jawa Kuno. 

Menurut prasasti tersebut, di Desa Biluluk terdapat sumber air asin tempat orang membuat garam. Setiap pendatang diizinkan membuat garam di situ dengan membayar sejumlah pajak tertentu yang ditarik oleh penguasa Desa Biluluk (Kamus Arkeologi Indonesia 2, 1979). 

Relief pedagang pikulan (Sumber: Pasar di Jawa)

Dalam prasasti garam disebut wuyah atau buyah. Biasanya terdapat pada bagian prasasti yang memuat ketentuan pajak perdagangan dan pajak perajin. Dalam Prasasti Turyyan (929 Masehi) antara lain disebutkan...timah buyah padat...(Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna Abad VIII -- XI Masehi, 2003). Jelas, pedagang garam dikenakan pajak.

Pada prasasti, sebagaimana penelitian Titi Surti Nastiti, juga disebutkan komoditi yang dijual di pasar, misalnya ikan yang diasinkan atau dikeringkan. Satuan ukuran ikan asin disebut kujur (?). Menurut Titi, ini diketahui dari Prasasti Waharu 1 atau Prasasti Jenggolo (929 Masehi).

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline