Lihat ke Halaman Asli

Kisah Penjual Rupiah

Diperbarui: 27 Mei 2022   12:54

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Assalamualaikum wr wb

Pada kesempatan yang bagus ini saya akan berbagi sedikit pengalaman saya bertemu dengan Ibu Tiwok beliau merupakan salah satu tetangga saya yang tergolong sebagai golongan orang Fakir. 

Perlu diketahui disini bahwa di dalam agama islam fakir dan miskin adalah suatu kondisi yang berbeda. Dimana miskin adalah kondisi Ketika seseorang tersebut memiliki penghasilan yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Sedangkan fakir adalah kondisi dimana seseorang tersebut bahkan tidak bisa memenuhi kebutuhan pokoknya.

Di sini tujuan saya mengunjungi Ibu Ti ini adalah dengan maksud untuk menyerahkan zakat fitrah saya kepada beliau. Kebetulan saya mengunjungi beliau pada bulan yang penuh berkah ini yaitu bulan Ramadhan. 

Sembari menyerahkan zakat yang saya bawa, saya berbincang sedikit dengan beliau mengenai kehidupan sehari-harinya. Bu Ti pun bersedia menceritakan sedikit pengalamannya dalam menghadapi masalah hidupnya.

Ibu Ti ini merupakan seorang ibu tunggal yang tinggal di salah satu rumah di Daerah Nganjuk yang juga merupakan tempat tinggal saya. Ia adalah ibu tunggal yang merawat dua orang anaknya. Sebelumnya dia tinggal Bersama dengan Ibunya, Suaminya dan kedua anaknya. Namun, sekarang hanya tinggal bersama kedua anaknya saja lantaran suaminya berada di penjara dan Ibunya meninggal dengan tragis. Ibunya meninggal tidak wajar dia bunuh diri dengan menggantung lehernya di dalam kamarnya sendiri.

Sedihnya lagi salah satu anaknya menyandang gangguan jiwa. Setiap harinya hanya duduk didepan rumah dan meneriaki orang yang lewat depan rumahnya. Kedua anaknya ini adalah gadis.

Saya sangat salut dengan beliau. Beliau menghidupi kedua anaknya dengan kerja kerasnya sendiri dan tidak bergantung dengan orang lain.

Keseharian Bu Ti ini adalah sebagai buruh tani. Setiap pagi beliau berangkat kerja sebagai buruh di sawah atau lahan milik orang-orang desa. Beliau bekerja sekitar jam 6 pagi sampai jam 11 siang. Terkadang kalau beruntung bisa melanjutkan bekerja lagi hingga petang jam 5 sore ungkap Bu Ti.

"Yo lek kadung bejo, sedino iso sampek peteng, gajine yo lumayan dibanding lek muleh awan" (Ya kalau lagi beruntung, sehari bisa sampai sore, gajinya juga lumayan disbanding jika pulang siang) Ujarnya.

Selain menjadi seorang buruh tani tentunya Bu Ti perlu tambahan penghasilan lain untuk mencukupi kebutuhannya dan menghidupi keluarganya. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline