Lihat ke Halaman Asli

Usman Didi Khamdani

Menulislah dengan benar. Namun jika tulisan kita adalah hoaks belaka, lebih baik jangan menulis

Cara Menelusuri Hoaks

Diperbarui: 25 Maret 2020   20:12

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

contoh postingan hoax. gambar: kominfo.go.id

Semakin terbukanya ruang komunikasi, terutama melalui media sosial, mau tidak mau membuka celah juga bagi hoax untuk berkembang. Di mana kemudahan akses untuk mendapatkan informasi sekaligus meneruskan atau menyebarkannya, seringkali tidak dibarengi dengan tindakan yang bijak. Inilah yang memberi celah bagi hoax tersebut.

Informasi yang didapatkan seringkali tidak ditelaah, dipercayai begitu saja, disebarluaskan begitu saja. Terlebih jika informasi yang ada dikirim oleh orang yang kita kenal dan di dalam informasi tersebut tertera nama orang atau lembaga terpecaya. Padahal, tidak semua informasi benar adanya. Banyak informasi yang telah dipelintir atau sengaja dibuat dengan mengada-ada.

Seperti yang berkenaan dengan wabah COVID-19 saat ini. Di media-media sosial seperti Facebook, Twitter maupun Instagram atau grup-grup percakapan seperti WAG, banyak kita dapatkan informasi-informasi yang tidak benar yang penyebarannya bahkan lebih cepat dari COVID-19 itu sendiri, yang pada kondisinya membuat masyarakat menjadi ragu, panik bahkan tidak terkendali.

Lalu, bagaimana cara kita mengenalinya? Bagaimana cara kita mengetahui bahwa informasi yang kita dapatkan adalah hoax belaka?

Pencarian Online

Untuk melakukan penelusuran hoax melalui Google sebenarnya cukup mudah. Kita tinggal memasukkan kata kunci informasi yang akan kita cari disertai kata hoax di depannya.

Hal pertama yang bisa kita lakukan adalah dengan menelaah sendiri informasi tersebut. Kita coba pikirkan secara rasional kebenarannya.

Misalnya informasi yang sering beredar melalui SMS dan WhatsApp tentang hadiah-hadiah gratis seperti di bawah ini.

contoh informasi yang cenderung menyesatkan (dokpri)

Kalaupun kemudian kita merasa tertarik ataupun cenderung mempercayainya, sebaiknya kita melakukan pengecekan terlebih dahulu sebelum mengikuti intruksi yang ada atau menyebarkannya ke yang lain. 

Kita bisa melakukan pengecekan baik melalui penelusuran semacam Google atau dengan menghubungi pihak yang berwenang (misalnya operator selular). Jika kita memang kemudian bisa membuktikan sendiri kebenarannya, bahwa hadiah memang telah kita terima seperti yang dijanjikan, barulah kita dapat meneruskan atau menyebarkannya kepada yang lain. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline