Lihat ke Halaman Asli

Usman Didi Khamdani

Menulislah dengan benar. Namun jika tulisan kita adalah hoaks belaka, lebih baik jangan menulis

Pembunuhan di Rue Morgue (Bag. 1)

Diperbarui: 16 Maret 2020   00:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

foto ilustrasi pada cerita asli | The Murder in The Rue Morgue-Edgar Allan Poe

Cerita: Edgar Allan Poe

PARIS! Di Paris saat itu, pada musim panas tahun 1840. Di sana aku pertama kali bertemu dengan laki-laki muda yang aneh dan menarik itu. August Dupin.

            Dupin adalah anggota terakhir sebuah keluarga yang sangat terpandang, sebuah keluarga yang kaya dan terkenal; toh, dia sendiri, jauh dari kekayaan. Dia memegang sedikit uang. Dia telah membelanjakannya banyak untuk kebutuhan-kebutuhan pokok hidup---dan beberapa buku; dia tidak mempedulikan istirahat. Hanya buku-buku. Dengan buku-buku dia  senang.

            Kami pertama kali bertemu saat sama-sama sedang mencari buku yang sama. Karena itu merupakan sebuah buku yang jarang didengar, kebetulan inilah yang mempertemukan kami di sebuah toko buku tua. Kemudian kami bertemu lagi di toko yang sama. Lalu kembali di toko buku yang lain. Kamipun mulai bercakap-cakap.

            Aku sangat tertarik dengan kisah keluarga yang yang dia ceritakan padaku. Aku terkesima, juga, betapa banyak dan betapa luasnya dia telah membaca; lebih berarti lagi, daya pikirnya yang keras seperti sebuah sinar yang terang bagi jiwaku. Aku rasa persahabatan dengan orang seperti itu akan memberiku kekayaan yang tak ternilai. 

Aku karenanya memberitahukannya perasaanku terhadapnya, dan dia mau untuk datang dan tinggal bersamaku. Dia akan mendapatkan, aku pikir, kegembiraan menggunakan banyak buku bagusku. Dan aku akan mendapat kesenangan mempunyai seseorang bersamaku, sebab aku tidak bahagia sendirian.

            Kami melewati hari-hari dengan membaca, menulis dan bercengkrama. Tapi Dupin seorang pecinta malam, dan pada malam hari, seringkali dengan hanya cahaya bintang-bintang yang menunjuki kami jalan, kami menyusuri jalanan Paris, sesekali bercakap-cakap, sesekali diam, selebihnya merenung.

            Akupun menemukan satu daya nalar khusus yang dia miliki, daya nalar yang luarbiasa. Menggunakannya memberinya kesenangan yang besar. Dia mengatakan padaku suatu kali, dengan tawa yang lembut dan tenang, kebanyakan orang mempunyai jendela di hati mereka; melalui inilah dia bisa melihat ke dalam batin mereka. 

Lalu, dia tahu tentang batinku sendiri; dan aku mendapatinya tahu sesuatunya tentangku yang aku pikir hanya aku yang dapat mungkin tahu. Sikapnya untuk saat-saat ini dingin dan asing. Matanya terlihat kosong dan menerawang jauh, dan suaranya menjadi tinggi dan gelisah. 

Pada saat-saat seperti itu sepertinya aku melihat tidak hanya seorang Dupin, tapi, dua orang Dupin---seorang yang dengan dingin mengumpulkan sesuatunya, dan seorang lagi yang dengan dingin pula memisahkanya.

            Suatu malam kami turun menyusuri satu jalanan Paris yang panjang dan kotor. Kami berdua sibuk dengan pikiran kami. Tidak juga bercakap-cakap selama kira-kira lima belas menit. Seperti kami saling lupa jika yang lain berada di sana, di sampingnya. Toh akupun tahu Dupin tidak melupakanku. Tiba-tiba dia berkata, "Kamu benar. Dia pemuda yang sangat kecil, itu benar, dan dia akan lebih berhasil jika dia memainkan di dalam kotak korek, lakon-lakon yang tidak begitu serius."

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline