Lihat ke Halaman Asli

Ayu Diahastuti

TERVERIFIKASI

an ordinary people

Anak Remaja dan Pornografi: Seberapa Jauh Kita Peduli?

Diperbarui: 11 November 2022   19:01

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi remaja dengan gadget via unsplash (steinar engeland)

Peperangan antara orang tua dengan pornografi masih terus berkelanjutan. Terlebih saat dilema digitalisasi mendera anak untuk terus mengikuti perkembangan alat canggih semacam gadget.

Sejurus maraknya informasi via dunia yang rentan tanpa ruang privasi, konten beraroma "miring" pun menelusup masuk. Merasuki dunia anak-anak di tengah aktifnya jemari kecil generasi Alfa. Apakah lebay jika saya menyatakan bahwa perang antara orang tua versus pornografi semakin memuncak?

Larangan, ancaman, hukuman, beragam aturan, bahkan segala macam cara menjadi upaya orang tua melindungi si buah hati dari pornografi. Tak ayal, tudingan penyebab beragam tindak asusila di kalangan remaja mengarah pada toksisitas konten berbau pornografi.

Okay, markitalk tentang pornografi dan anak.

Studi yang dilakukan oleh Kemenkes RI pada tahun 2017, misalnya. Dalam studi tersebut, didapati ada 94% remaja menikmati konten pornografi dari media. Apakah hanya dari telepon seluler saja? 

Dinyatakan pula dalam studi tersebut, bahwa akses pornografi anak remaja melalui : internet (57%), komik (43%), medsos (34%), buku (26%), majalah (19%), film/tv (17%), game (4%), lain-lain (4%). Itu data dari tahun 2017 lho yha.

Dua tahun yang lalu, baik dari BPS, Kemenkes RI, PPPA, maupun Kominfo masing-masing menyajikan data yang hampir sama. Bahwa terjadi peningkatan penggunaan media berbasis internet untuk keperluan belajar maupun bersosialisasi anak-anak. 

Yang mana, aktivitas tersebut ditengarai memberikan dampak negatif lebih banyak dibandingkan dengan dampak positif terhadap tumbuh kembang anak. Saya tidak akan menyebut berderet gangguan mental sebagai dampak akut, ya.

Namun seiring meningkatnya disrupsi digitalisasi, banyak kita jumpai fenomena pada anak-anak seperti stres, mager, burnout syndrom, cyber bullying, hingga maraknya konten vulgar yang diunggah oleh anak-anak remaja. 

Sempat saya jumpai pula banyak orangtua mulai mengeluh tentang anak-anak mereka yang too much mager bila belajar. Namun, bila berhadapan dengan lappy atau ponsel saat bermain game online mereka selalu betah mantengin. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline