Lihat ke Halaman Asli

Dhani Apriandi

Seorang Notaris

Menikmati Hidup di Masa PPKM

Diperbarui: 3 Agustus 2021   14:42

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Tak dipungkiri lagi, derasnya laju penyebaran Covid-19 di tanah air telah membawa kita kepada fase kehidupan yang krisis. Berbagai kebijakan telah diambil oleh Pemerintah untuk menanggulangi virus ini, tapi hasilnya seolah "berbuah kurang manis".

Akibatnya, masyarakat harus menanggung beban derita yang cukup berat. Sebagian masyarakat terpaksa menutup usaha yang mereka miliki akibat sepinya konsumen. Sebagiannya lagi, terpaksa kehilangan pekerjaan akibat perusahaan tempat mereka bekerja telah gulung tikar.

Salah satu kebijakan penanggulangan virus ini adalah penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). PPKM yang hingga saat ini kita rasakan adalah sebuah tindakan represif, yang akhirnya ditempuh oleh Pemerintah untuk mereduksi tingkat penyebaran Covid-19 di tanah air.

Kehadiran kebijakan ini pada dasarnya dilatarbelakangi oleh keprihatinan Pemerintah, karena begitu cepat dan tingginya angka penularan Covid-19 terhadap masyarakat sampai hari ini.

PPKM lahir dari semangat superioritas. Penerapannya bertujuan untuk menyadarkan masyarakat bahwa Covid-19 ini sungguh nyata dan berbahaya. Terlebih, salah satu media penularannya saat ini melalui human to human, maka diyakini bahwa kontak fisik dalam interaksi sosial perlu dibatasi untuk sementara waktu.

Harapannya, agar angka penyebarannya dapat segera menurun. Dan, apabila itu terwujud, maka krisis di berbagai sektor kenegaraan dan kehidupan masyarakat dapat pulih dengan cepat.

Namun, terlepas dari sisi superioritasnya itu, ketika PPKM dilemparkan ke tengah masyarakat, ia mulai menampilkan sisi inferioritasnya. Sisi ini memaksa kita untuk menelan pil pahit yang terasa buruk di tenggorokan.

Mangkraknya produktivitas di satu sisi, dan mati surinya kreativitas di lain sisi adalah efek negatif diterapkannya PPKM. Efek ini telah mengikis sendi-sendi perekonomian masyarakat dengan cepat. Dalam situasi ini, kita dipaksa untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan hidup secara "ngesot".

Efek negatif PPKM tak berhenti di situ saja. PPKM turut menyinggung sisi kebutuhan esensial kita sebagai manusia, yaitu bersosialisasi. Sebagai makhluk sosial, jalinan hubungan antara manusia terhadap manusia lainnya adalah sebuah kebutuhan vital.

Pada dasarnya, kita tidak akan mampu mempertahankan hidup apabila tidak menjalin hubungan dan berinteraksi dengan masyarakat. Demikian karena, kompulsi untuk hidup berkelompok adalah kodrat alami kita sebagai makhluk sosial.

Kendati kebutuhan sosial itu telah mampu dijembatani oleh media sosial. Namun, hal itu dirasa tetaplah "kurang", karena selama sosialisasi berlangsung, kita membutuhkan reaksi fisik dari lawan interaksi berupa ekspresi, impresi dan gestur tubuh yang dapat memberikan nilai-nilai kebahagiaan penuh bagi psikis kita.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline