Lihat ke Halaman Asli

Dewi Puspasari

TERVERIFIKASI

Penulis dan Konsultan TI

Tambah Wawasan Seputar Holokaus dalam Nobar Virtual "6 Jam di Auschwitz"

Diperbarui: 27 Februari 2021   23:07

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sebuah film dokumenter tentang kamp konsentrasi Nazi (kredit: Monique Rijkers)

Cerita holokaus selalu membuatku merinding dan tak nyaman. Selama ini aku lebih sering mendapatkan pengetahuan tentang tragedi ini lewat film fiksi dan memilih menghindar untuk menyaksikan film dokumenternya. Tapi entah kenapa siang tadi (27/2) aku penasaran dan tertarik untuk menyaksikan film dokumenter pendeknya, yang berjudul "6 Jam di Auschwitz".

Ada begitu banyak kisah tentang kekejaman di kamp konsentrasi yang dibangun oleh Nazi seperti dalam film "Schindler's List" dan "The Boy in The Stripped Pajamas". Film-film ini dengan dramatis menggambarkan situasi dalam kamp konsentrasi yang bikin ngeri.

Salah satu kompleks kamp konsentrasi ada di Auschwitz, Polandia. Ia adalah kompleks kamp terbesar yang pernah dihuni total sekitar 1,3 juta tawanan Jerman selama tahun 1940-1945. Sebagian besar tahanan tersebut merupakan bangsa Yahudi, lainnya adalah tawanan dari Rusia, bangsa Gypsi dan etnis lainnya. Kompleks kamp ini bisa ditempuh 1,5 jam dari kota Krakow.

Film dokumenter berdurasi sembilan menitan ini menggambarkan situasi kamp Auschwitz pada masa kini. Kamp tersebut sejak tahun 1947 terbuka oleh pengunjung umum. Hingga saat ini sudah lebih dari 25 juta wisatawan yang mengunjunginya.

Lalu video menampilkan kamar yang boleh dikunjungi wisatawan, deretan foto korban, sepatu-sepatu korban holokaus, serta foto-foto dokumentasi yang ada di kompleks kamp tersebut. Di luar bangunan ada lahan pemakaman korban holokaus yang sangat luas.

Video dokumenter ini dibuat oleh Monique Rijkers selama tur studinya selama enam jam di Auschwitz. Visualnya sederhana, tidak seperti video dokumenter yang dibuat secara profesional. Namun, pesannya mengena, yakni betapa mengerikannya propaganda diskriminasi hingga berujung ke genosida.

Acara nobar virtual ini kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi yang dimoderatori oleh Satria Tumbelaka. Dalam sesi diskusi ini Monique juga menampilkan koleksi fotonya selama di Auschwitz.

Ada foto krematorium, pagar berduri, menara penjaga, bekas tempat eksekusi, kaleng bekas gas pembunuh, dan gerbong kematian di kamp konsentrasi tersebut. Foto-foto tersebut melengkapi kisah penderitaan para tawanan yang ada di kamp tersebut. Mengerikan.

Foto gerbong ini mengingatkanku pada gerbong maut yang ada di Museum Brawijaya (kredit: Monique Rijkers)

Cerita Monique tentang gerbong kematian ini mengingatkanku pada gerbong maut yang ada di Museum Brawijaya di Malang. Menurut Monique, tawanan selain disuruh jalan kaki ke kamp juga ada yang diangkut lewat gerbong kereta api. Situasinya mirip dengan korban gerbong maut di tanah air. Para tawanan berjejalan di dalam gerbong tanpa ventilasi udara, dan juga tanpa makan minum. Banyak yang meninggal selama perjalanan.

Monique juga menjelaskan dalam sesi diskusi ini tentang genosida dan sejarahnya. Genosida adalah pembunuhan besar-besaran terhadap etnis, suku, ras, dan bangsa tertentu yang dilakukan secara sistematis dan dalam kurun waktu tertentu.

Holokaus atau upaya pelenyapan etnis Yahudi adalah salah satu dari genosida. Sebelumnya juga ada genosida di Armenia, Benua Amerika, dan wilayah lainnya. Selepas Perang Dunia II, juga masih ada kejahatan genosida seperti yang terjadi di Rwanda dan Kamboja.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline